Cara Mempercepat Produktivitas Breeding Ikan Pari Amazon
Jagad Tani - Saat menjadi seorang pembudidaya ikan pari (Potamotrygonidae), khususnya ikan pari hias air tawar yang berasal dari Sungai Amazon, Brazil, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar proses budidaya bisa berjalan lancar dan lebih cepat.
Menurut Jimmy Leonardi Lim, owner dari Mediterania Aquatic, yang merupakan importir sekaligus breeder dari ikan pari di Serpong Utara, Tangerang Selatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama masa breeding.
Baca juga: Populasi Ikan Endemik Kalbar Berkurang, Harus Diprogramkan
"Dulu saya selalu edukasi saat breeding, satu jantan dua betina. Tapi saya koreksi, setelah saya belajar dan praktekkan sendiri. Minimal dua Jantan, dan betinanya satu, itu oke. Mau dua, tiga, atau empat (pun) juga oke," ungkapnya kepada Jagad Tani.
Hal tersebut dilakukan bukan tanpa sebab, berdasarkan pengalamannya, Jimmy mengatakan bahwa, jika hanya memasangkan satu jantan dan dua betina ke dalam kolam, maka proses reproduksinya akan berjalan lambat.
"Yang pastinya minimal harus ada dua jantan. Karena kalau jantannya cuma satu, untuk proses menggaulinya itu agak malas-malasan. (Jadi) biar ada persaingan, kalau cuma satu saja kan dia merasa ganteng, jadi mager (untuk melakukan reproduksi)," sambungnya.
Berdasarkan pengalaman itu, Jimmy menilai, setidaknya dalam melakukan proses breeding, maka jumlah indukan yang dimasukkan bisa sesuai dengan jumlah yang disebutkan, supaya bisa lebih efektif dan produktif.
Lebih lanjut, diterangkan pula bahwasanya bagi seorang penghobi, jika tidak sampai dalam membudidaya ikan itu, ikan budidaya-nya tidak melahirkan anakan, rasanya seperti belum komplit.
"Karena menurut saya, tingkatan tertinggi dari memelihara hewan, (dalam hal ini) ikan. Kalau sudah melahirkan anakan, berarti si indukannya nyaman (kita rawat dan budidaya). (Selain itu) motivasi (kita melakukan breeding ini) ingin mengembangbiakkan ikan pari biar Indonesia itu tidak hanya (melakukan) impor (tapi juga bisa menjadi produsen)," terangnya.
Bukan cuma itu saja, selama proses breeding itu Jimmy menjelaskan bila, ia pun juga melakukan proses hybrid antara satu jenis ikan pari dengan pari yang lain, sehingga bisa menghasilkan varietas yang baru, dengan warna yang ciamik.
"(Di sini) sedang kita coba kawin silangkan juga (antara) Black Diamond dengan jenis Hybrid. Hybrid-nya yang (berwarna) coklat, tapi coraknya besar, itu dia genetiknya juga ada Black Diamond-nya. Dari coraknya itu besar-besar. Nah, kita lagi berusaha untuk menciptakan jenis baru," terangnya.
Usaha yang awalnya hanya berjumlah enam ekor dari jenis Motoro Original (Motoro Cokelat), akhirnya mulai berkembang, dan Jimmy pun selain melakukan hybrid juga mengimpor berbagai jenis ikan pari hias, seperti Motoro Hybrid, Black Diamond Hybrid, Black Diamond, Pearl Albino, Pearl Albino Snow, Pearl Albino Golden Base, White Diamond Hybrid, White Diamond, SWC, SW, hingga SWC Albino.
Dengan menerapkan berbagai langkah di atas, mulai dari peningkatan produktifitas, percobaan pembiakkan dengan hybrid, hingga impor Jimmy setidaknya telah berhasil membuat produk yang bernilai jual ekonomis, dan setidaknya bisa diterapkan bagi siapapun.
"(Bagi) pemula, penghobi awal yang mau mengetes (peruntungan di pari hias) air (tawar), itu bisa dimulai dari Rp1 juta sampai Rp1,5 juta. Tapi tergantung corak. Kalau coraknya bagus bisa di atas Rp2 juta, itu (jenisnya) Motoro (juga)," tukasnya.

