• 17 July 2026

Mengenal Metode Tanam Padi Terbaru, PM-AAS

uploads/news/2026/07/mengenal-metode-tanam-padi-136046197cb02b4.png

Jagad Tani - Baru-baru ini pengembangan metode penanaman padi dilakukan di sejumlah titik kabupaten yang ada di Indonesia, yakni melalui metode Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-ASS) misalnya di di Desa Bonto Padang, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone ataupun di Desa Bunkate Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.

Melalui laman Kementerian Pertanian (Kementan), disebutkan jika PM-ASS ini mengadopsi dari metode dari praktik pertanian yang berkembang di Arkansas, khususnya di wilayah Delta Arkansas, sebuah kawasan subur di Amerika Serikat. Biasanya daerah tersebut menggunakan sistem tanam benih langsung dengan jarak yang rapat antar benih, agar penggunaan lahan jadi lebih optimal.

Baca juga: Kelompok Tani Milenial Tanam 12.000 Bibit Cabai

Hal itu juga yang dilakukan melalui metode ini. Adapun prinsip utamanya meliputi enam poin, yaitu penanaman rapat dalam baris (guna meningkatkan efisiensi lahan dan memaksimalkan hasil produksi per hektar), efisiensi sumber daya (pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan sumber daya, khususnya air irigasi).

Selain itu juga ada penggunaan mekanisasi pertanian (penggunaan alat dan mesin pertanian modern seperti traktor, land laveler, rotavator, drone, drum seeder, dan combine harvester), implementasi berbasis korporasi (skala luas), intensifikasi produksi (berguna untuk peningkatan hasil produksi per hektar), serta spesifik lokasi (penerapan sistem pertanian yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi).

Metode ini juga melakukan penanaman benih langsung (Tabela) tanpa persemaian, menggunakan drum seeder dengan pola 4:1 ataupun 6:1 tanam rapat dalam baris atau lebar lorong: 40 cm.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, metode PM-AAS telah melalui uji coba selama dua tahun di lahan seluas sekitar 1.600 hektare di berbagai sentra produksi padi. Hasilnya menunjukkan produktivitas mencapai 9-12 ton gabah per hektare, jumlahnya di atas rata-rata produktivitas nasional yang saat ini sekitar 5,5 ton per hektare.

"Metode PM-AAS ini sudah kita uji coba di 1.600 hektare. Produksinya ada yang 10 ton, bahkan mencapai 12 ton. Minimal 9 ton per hektare. Sekarang kita dorong diterapkan di daerah-daerah irigasi agar produktivitas meningkat signifikan," ungkapnya dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (17/7).

Lebih jauh dijelaskan bahwa keberhasilan PM-AAS tidak hanya diukur dari peningkatan hasil panen, tetapi juga peningkatan pendapatan petani. Sehingga dinilai mampu mengubah struktur ekonomi rumah tangga petani.

Dicontohkan Amran, jika sistem budidaya konvensional biaya produksi tercatat sekitar Rp13 juta per hektare dengan produksi rata-rata 5,2 ton gabah, petani memperoleh keuntungan sekitar Rp20,79 juta per musim tanam atau setara pendapatan sekitar Rp5,19 juta per bulan.

Sedangkan pada metode PM-AAS, biaya produksi memang meningkat sekitar Rp15,17 juta per hektare, namun, bisa menghasilkan produksi hingga 12,4 ton per hektare dengan keuntungan mencapai Rp65,43 juta per musim tanam atau sekitar Rp16,36 juta per bulan.

"Dulu biaya sekitar Rp13 juta, sekarang menjadi Rp15 juta, naik hanya sekitar Rp2 juta. Tetapi pendapatan bersih petani yang sebelumnya sekitar Rp5 juta per bulan meningkat menjadi Rp16,3 juta per bulan. Naik tiga kali lipat. Ini yang kita kejar," jelasnya.

Sehingga rasio keuntungan (B/C Ratio) dinilai meningkat dari 1,60 menjadi 4,31, serta dianggap mampu meningkatkan populasi tanaman sekaligus mempertahankan kualitas pertumbuhan.

"(Metode ini merupakan) penggabungan metode Arkansas dengan jajar legowo. Cahaya matahari masuk lebih optimal sehingga fotosintesis lebih baik, malai lebih bagus. Populasi tanaman yang sebelumnya sekitar 320 ribu sampai 360 ribu batang per hektare sekarang meningkat menjadi sekitar 1 juta batang. Itu yang membuat produksinya melonjak," tandasnya.

Related News