• 23 July 2026

Keong dan Bekicot, Serupa Tapi Tak Sama

uploads/news/2026/07/keong-dan-bekicot-serupa-696950a6140d216.jpeg

Jagad Tani - Bagi orang awam, hampir tidak ada bedanya antara keong dan bekicot. Akan tetapi, bagi Ayu Savitri Nurinsiyah, periset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bekicot hanyalah salah satu dari banyak jenis keong.

“Bekicot adalah keong (Amphidromus javanicus), tapi keong belum tentu bekicot (Lissachatina fulica),” ungkap Ayu dalam keterangan resmi dikutip Kamis (23/7).

Baca juga: Spesies Ikan Gobi Udang Ditemukan di Banyuwangi

Menurutnya, keong merupakan spesies endemik yang ada di Pulau Jawa, sedangkan bekicot merupakan spesies asing invasif dan sudah masuk dalam 100 spesies invasif paling membahayakan di dunia. Hal tersebut dikarenakan bekicot mampu bereproduksi cepat, dan memiliki dua organ kelamin dalam satu tubuh (hermafrodit).

Awalnya bekicot didatangkan ke Indonesia sekitar tahun 1900-an dan masuknya secara masif sekitar tahun 1940-an, saat penjajahan Jepang untuk dibudidayakan.

Selain itu, Ayu juga menjelaskan soal metode koleksi spesimen keong (gastropoda). Namun, yang paling banyak digunakan adalah time-search, visual search, atau direct collection, yang dilakukan menggunakan pinset atau dengan mengambil langsung menggunakan tangan.

“Sebaiknya pada saat di lapangan, beberapa metode pengoleksian lebih baik digabungkan, karena persediaan waktu dan dana yang terbatas,” jelasnya.

Bukan cuma metode pengoleksian, juga ada teknik preservasi untuk koleksi mati (hanya cangkang) dan koleksi hidup (cangkang dengan badan). Jika cangkang keong berukuran besar, cangkang dapat dibersihkan menggunakan air dan sikat gigi berbulu halus.

Sementara untuk cangkang kecil, pembersihan dapat dilakukan menggunakan ultrasonografi. Setelah dibersihkan, cangkang harus diberi label berisi nomor koleksi, lokasi, dan nama spesies. Untuk koleksi hidup, keong harus segera dimatikan dengan cara direbus di air mendidih.

Ayu menekankan bahwa, identifikasi keong tidak hanya dilakukan melalui ekspedisi dan eksplorasi, sebab melalui studi spesimen juga dapat dilakukan di museum, dan menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi spesies yang ada di koleksi. Literatur terdahulu umumnya memuat deskripsi, ukuran, serta data lokasi suatu spesies.

Lebih lanjut, Ayu menegaskan pentingnya pengelolaan museum, baik museum pameran maupun museum koleksi ilmiah. Menurutnya, museum koleksi ilmiah harus dikelola dengan baik agar koleksi keong tetap dapat dimanfaatkan untuk penelitian di masa mendatang.

“Kita tidak tahu 50 atau 100 tahun kemudian habitat keong sudah punah. Karena itu, museumlah tempat menyimpan spesimen secara baik,” tukas Ayu.

Related News