Penyebab Ikan-Ikan di Sikka Naik ke Darat
Jagad Tani - Ada fenomena menarik yang terjadi di Pantai Nampung Nao, Desa Watutedang, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, pada Kamis (23/7) lalu, di mana terdapat sebuah video yang beredar di Sosial Media memperlihatkan ribuan ikan naik ke darat.
Melalui laporan Jurnal Floresa, Andi Amuntoda, selaku Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) wilayah Kabupaten Lembata, Kabupaten Flores Timur, dan Kabupaten Sikka, mengatakan, fenomena ikan yang naik ke daratan dikarenakan peristiwa upwelling.
Baca juga: Berkenalan dengan Ayam Jowo Super (Joper)
Upwelling sendiri dalam catatan National Oceanographic merupakan peristiwa naiknya massa air di lapisan bawah (thermocline) ke permukaan, hal ini dikarenakan adanya angin yang bergerak di atas perairan, sehingga angin tersebut mendorong massa air yang berada di permukaan.
Tentunya, lapisan thermocline tersebut memiliki suhu yang lebih dingin dengan salinitas yang lebih tinggi. Oleh karenanya, saat terjadi upwelling, lapisan thermocline yang naik ke permukaan akan membuat karakteristik perairan di permukaan berubah jadi lebih dingin.
Perubahan suhu dan kadar oksigen yang menurun ini memengaruhi metabolisme ikan, sehingga ikan yang sedang mengalami stres fisiologis karena kondisi tersebut, akan cenderung bergerak mencari tempat yang sesuai, termasuk ke permukaan, demi mencari kadar oksigen yang tinggi, demi kelangsungan hidupnya.
Sementara itu, dalam keterangan tertulis di Official Instagram Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dijelaskan bahwa saat fenomena upwelling, air dari dasar laut itu bukan hanya memiliki suhu yang lebih dingin, tetapi juga kaya akan nutrisi yang dibutuhkan tumbuhan laut (fitoplankton) untuk tumbuh.
Hal tersebut mengakibatkan permukaan laut menjadi lebih subur. Sehingga, semakin banyak fitoplankton maka akan semakin banyak pula ikan dan biota laut yang datang untuk mencari makan.
Sebelumnya, pada bulan Juli tahun 2024 lalu juga terjadi fenomena yang sama di Kecamatan Lela, tepatnya di Desa Du, di mana para warga berhamburan keluar rumah, untuk menangkap ikan Pelagis (tembang) yang bertebaran di pesisir pantai, lalu dimasukkan ke dalam ember.

