Varietas Gamaba, Bawang Merah Unggulan Dataran Rendah
Jagad Tani - Komoditas bawang merah merupakan salah satu bahan kebutuhan pangan yang permintaannya terus meningkat di pasaran. Akan tetapi, tingkat produktivitasnya hingga saat ini masih sering terkendala, karena hanya mampu tumbuh di wilayah dataran rendah.
Pada akhirnya, pihak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Hortikultura bersama Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Gamaba, calon varietas unggul bawang merah yang dirancang lebih adaptif.
Baca juga: Penguatan Konservasi Gajah Sumatera di Benakat
Adapun perbanyakan bawang merah Gamaba ini, dilakukan di lahan petani kooperator Didik Hartanto, di Candi Dukuh, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut Dwinita Wikan Utami, Kepala Pusat Riset Holtikultura BRIN, pertumbuhan dan karakter umbi Gamaba menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Penguatan data ilmiah dan penyiapan sistem perbenihan sejak awal, menjadi langkah penting agar hasilnya dapat memberikan manfaat bagi petani.
“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan penelitian saja. Kami ingin memastikan calon varietas yang dihasilkan memiliki keunggulan yang teruji, benihnya dapat diproduksi secara berkelanjutan, dan pada akhirnya dapat memberikan manfaat nyata bagi petani,” ucapnya melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu (2/8).
Varietas Gamaba kini telah memperoleh Sertifikat Pendaftaran Varietas Nomor 939/PVHP/2022 dan saat ini sedang dipersiapkan untuk mengikuti tahapan pengujian sebagai dasar pengusulan pelepasan varietas.
Lokasi penanaman dipilih berada pada ketinggian sekitar 100-300 meter di atas permukaan laut karena mewakili kondisi agroekosistem dataran rendah yang menjadi target pengembangan varietas ini.
Retno Pangestuti, dari Peneliti Pusat Riset Hortikultura BRIN, yang juga penanggung jawab kegiatan, menjelaskan penelitian pada 2026 difokuskan pada peningkatan stok umbi benih yang berasal dari true seed of shallot (TSS).
Selain itu, penelitian ini juga mencakup karakterisasi genetik dan profil metabolit untuk memperkuat identitas serta keunggulan Gamaba sebagai calon varietas unggul baru.
“Kami sedang menyiapkan bahan tanam dalam jumlah dan mutu yang memadai untuk mendukung pengujian calon varietas. Selain karakter agronomis, penelitian juga akan mencakup karakterisasi genetik dan profil metabolit untuk memperkuat identitas serta informasi keunggulan Gamaba,” terangnya.
Nantinya, di tahun 2027, tim merencanakan uji keunggulan sebagai bagian dari persyaratan pengusulan pelepasan varietas. Apabila seluruh tahapan pengujian dan pelepasan terpenuhi, di 2028 akan diarahkan pada hilirisasi dan perbanyakan benih dengan melibatkan mitra produsen benih yang memenuhi persyaratan.
Berdasarkan hasil pengamatan agronomis, Gamaba memiliki potensi produktivitas lebih dari 15 ton per hektare dengan hasil yang relatif stabil pada musim kemarau maupun hujan.
Bukan hanya itu, calon varietas ini juga memiliki ukuran umbi yang relatif besar, umur panen genjah sekitar 50-55 hari setelah tanam, serta potensi daya simpan hingga lima bulan. Seluruh karakter unggul tersebut masih akan divalidasi melalui serangkaian pengujian sesuai persyaratan pelepasan varietas.
“Pengembangan bawang merah adaptif dataran rendah penting dilakukan karena membuka peluang optimalisasi lahan sawah setelah panen padi dan lahan kering beririgasi,” terang Retno.
Suhu yang relatif tinggi dan karakter lingkungan dataran rendah memerlukan varietas yang mampu mempertahankan pertumbuhan, pembentukan umbi, dan hasil secara stabil antar musim. Keberadaan varietas ini dapat mendukung perluasan musim, wilayah tanam, dan menjaga pasokan bawang merah nasional.
“Saat ini, tim sedang menyiapkan strategi pemeliharaan bahan tanaman sumber melalui penyediaan stok umbi benih dan biji (TSS). Strategi tersebut diperlukan untuk menjaga ketersediaan bahan tanaman, identitas genetik, kemurnian, dan mutu benih selama proses pengembangan,” tandasnya.

