• 2 August 2026

Belut Dari Rawa Kalimantan Selatan Tembus Tiongkok

uploads/news/2026/08/belut-dari-rawa-kalimantan-777612c4daf6e50.jpg

Jagad Tani - Di Kalimantan Selatan, belut yang dulunya hanya berakhir menjadi lauk di warung pinggir rawa, kini mampu menembus ke pasar ekspor Tiongkok. Bahkan dalam rentang waktu 7 bulan di tahun 2026, nilai ekspornya menembus Rp10,14 miliar.

Berdasarkan data dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalsel tercatat, di sepanjang Januari–Juli 2026 telah terjadi 72 kali pengiriman belut hidup ke Tiongkok. Totalnya 1,4 juta ekor atau 205,6 ton, dan melonjak tajam dibandingkan tahun 2025 yang hanya 17 kali pengiriman dengan nilai Rp1,92 miliar.

Baca juga: Penguatan Konservasi Gajah Sumatera di Benakat

Menurut Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Kalsel, Erwin A. M. Dabukke, lonjakan jumlah dan nilai ekspor tersebut tidak lepas dari dibukanya penerbangan kargo langsung Banjarmasin–Tiongkok, yang sebelumnya para eksportir harus memutar terlebih dahulu ke Jakarta atau Surabaya.

"Rantai logistik jadi lebih pendek. Kualitas belut lebih terjaga karena waktu tempuh lebih singkat. Kalau mutu terjaga, daya saing belut Kalsel di pasar global akan semakin kuat," ungkapnya dalam keterangan tertulis dikutip Minggu (2/8).

Sementara itu,  Plt. Deputi Bidang Karantina Ikan Badan Karantina Indonesia (Barantin) Sugeng Sudiarto, menyebutkan jika belut merupakan salah satu komoditas perikanan dengan prospek cerah di pasar internasional. Tapi untuk masuk ke negara tujuan, semua komoditas wajib lolos uji karantina.

"Belut hidup yang diekspor harus diperiksa kesehatannya dan dipastikan bebas hama penyakit ikan. Ini bukan hanya syarat negara tujuan, tapi juga untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap produk Indonesia," ungkap Sugeng. 

Selain bertugas mengawasi, Sugeng menambahkan bila pihaknya juga ikut turun untuk mendampingi pelaku usaha, mulai dari urusan dokumen, cek kesehatan media pembawa, hingga penerbitan sertifikat kesehatan. Tujuannya yakni untuk mempermudah akses ekspor. 

Sugeng menutup, belut hidup bukan cuma soal komoditas. "Ini soal nilai tambah sumber daya perikanan Indonesia, memperluas pasar, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah," tukas Sugeng.

Tentunya Kalsel sudah mempunyai modal besar, dengan kondisi perairan rawa dan lahan basah membuat daerah ini jadi salah satu penghasil belut alam terbesar di Indonesia, tinggala bagaimana menyusun strategi dalam memenuhi standar mutu negara tujuan.

Sedangkan Wisnu Wasisa Putra, Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Karantina,  menambahkan edukasi seperti web series ini penting agar makin banyak UMKM paham prosedur. "Kami ingin pelaku usaha Kalsel melek peluang global dan siap bersaing," tukasnya.

 

 

Related News