90 Tahun Menghilang, Kanguru Pohon Wondiwoi Ditemukan
Jagad Tani - Di belantara hutan pegunungan papua, terdapat satwa langka yang diperkirakan telah punah sejak tahun 1928 silam, namanya kanguru pohon wondiwoi (Dendrolagus mayri). Tapi tenyata setelah 90 tahun menghilangkan jejak, pada tahun 2018, kanguru ini akhirnya ditemukan kembali.
Berbeda dari keluarga kanguru (Macropodidae) lainnya di Australia, kanguru ini hidup dengan memanjat pepohonan hutan pegunungan Papua, ditambah panjangnya yang hanya 50-63 cm, sehingga mempermudahnya untuk berkamuflase di dahan-dahan pohon dan nyaris tak terlihat jika tak dicermati.
Baca juga: Manfaat Mengonsumsi Ikan Berlemak untuk Kesehatan Jantung
Berdasarkan laporan National Geographic, spesies ini ditemukan pertama kali oleh Ernst Mayr, yakni seorang ahli biologi evolusi, di Pegunungan Wondiwoi, Papua Barat, Indonesia, di bagian barat Papua Nugini, pada tahun 1928.
Kala itu, Mayr menembaknya, dan menjadikannya sebagai satu-satunya spesimen yang dikenal di ilmu pengetahuan, adapun kulitnya, dikirimkan ke Natural History Museum, London, dan dideskripsikan sebagai spesies, Dendrolagus mayri, pada tahun 1933. Semenjak itu tidak ada laporan, terkait spesies tersebut.
Setelah menghilang selama hampir satu abad, akhirnya melalui ekspedisi yang dipimpin oleh seorang ahli botani asal Farkham, Inggris, Michael Smith, bersama empat porter Papua, mereka berangkat menuju ke hutan bambu di ketinggian 5.000 kaki di Pegunungan Wondiwoi, untuk menemukannya.
Pada ketinggian sekitar 1.500 hingga 1.700 meter (4.900–5.600 kaki), dilaporkan oleh Smith, bahwa mereka mulai melihat bekas cakaran di batang pohon yang ditinggalkan oleh kanguru pohon, dan terkadang kotoran, serta terciumnya aroma yang ditinggalkan oleh kanguru, menyerupai bau rubah.
Sampai pada akhirnya, Smith memutuskan untuk menghubungi para ahli kanguru pohon, seperti Mark Eldridge, seorang ahli biologi marsupial di Museum Australia di Sydney dan Roger Martin dari Universitas James Cook di Queensland, Australia, untuk mengkonfirmasi temuannya, sebelum dipublikasikan.
Temuan Smith bersama tim ekspedisi itu akhirnya menggemparkan dunia konservasi, dan dibuktikan lewat foto saat melihat seekor kanguru di atas pohon, dengan ketinggian 30 meter atau 90 kaki.
"Setelah berupaya keras untuk memfokuskan lensa pada hewan yang mengintip dari balik dedaunan, saya berhasil mendapatkan beberapa foto yang lumayan bagus," ungkap Smith.
Dilansir dari Mongabay, kanguru pohon memiliki kaki belakang lebih pendek, dan lengan depan yang lebih kuat dibandingkan dengan kanguru darat, sehingga membuatnya jadi lincah saat di atas pohon, bahkan lebih dari 90% hidupnya dihabiskan di pepohonan, yang menjadikannya satwa arboreal (penghuni pohon).
Cakar melengkung di keempat kaki, serta telapak kaki yang dilapisi oleh kulit kasar, berfungsi untuk mencengkeram kulit kayu lebih kuat meski di dahan licin. Badannya dipenuhi bulu berwarna coklat keemasan, dan di bagian bawahnya lebih pucat, dengan panjang ekor sekitar 40–94 cm berfungsi sebagai penyeimbang saat bergerak di cabang pohon.
Bahkan saat bergerak di atas dahan, walaupun beratnya mencapai 35 pon, kanguru pohon bisa berjalan dengan lincah menggunakan keempat kakinya. Bahkan sangat pandai bersembunyi. Biasanya mereka baru keluar dan aktif untuk mencari makan, saat fajar menyingsing dan ufuk senja tiba, ketika suhu lebih dingin.
Disebutkan dalam buku “Ecology of Indonesian Papua” bahwa Pulau Papua memiliki keanekaragaman kanguru pohon yang tinggi, sebab terdapat delapan spesies yang terkonfirmasi, yakni kangguru pohon kelabu (Dendrolagus inustus) tersebar di Papua bagian utara dan barat.
Selain itu, juga ada kangguru pohon doria (Dendrolagus dorianus) di wilayah Papua bagian barat dan tengah; kangguru pohoan mantel emas (Dendrolagus pulcherrimus) endemik Pegunungan Foja, Papua; kangguru pohon wondiwoi (Dendrolagus mayri) endemik Pegunungan Wondiwoi, Teluk Wondama.
Selanjutnya ada kangguru pohon ifola (Dendrolagus notatus), kangguru pohon gading (Dendrolagus spadix), kangguru pohon lowland (Dendrolagus sp.), dan kangguru pohon ursine (Dendrolagus ursinus) endemik Semenanjung Doberai, Papua Barat.
Secara global, Genus Dendrolagus memiliki sekitar 12-14 spesies yang tersebar di Papua (Indonesia), Papua Nugini, dan ujung utara Queensland, Australia. Namun beberapa spesies seperti Dendrolagus matschiei, Dendrolagus goodfellowi, dan Dendrolagus scottae hanya ditemukan di wilayah Papua Nugini.
Kanguru pohon wondiwoi dikategorikan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) sebagai "Critically Endangered" atau Kritis, yang tingkat keterancamannya paling tinggi di alam, sebelum dinyatakan punah, dan populasinya diperkirakan kurang dari 50 ekor individu dewasa.
Sumber:
National Geographic. (2018). Rare Tree Kangaroo Reappears After Vanishing for 90 Years.
Mongabay (2026). Hutan Papua, Rumah Besar Kanguru Pohon.
GNFI (2026). Sempat Hilang 90 Tahun, Kanguru Pohon Wondiwoi Muncul di Hutan Papua.

