• 11 August 2026

Pemantauan Kenaikan Harga Bawang-Cabai Bandung Masih Dijalankan

uploads/news/2026/08/pemantauan-kenaikan-harga-bawang-cabai-670933ffb2ab6db.jpg

Jagad Tani - Pergerakan harga sejumlah komoditas pangan, yang cukup sensitif terhadap kenaikan karena tingginya permintaan, tentunya harus menjadi perhatian, terutama pada komoditas bawang dan cabai, agar harga dan daya beli masyarakat tidak menurun.

Muhammad Farhan selaku Wali Kota (Walkot) Bandung mengatakan jika bawang merupakan salah satu komoditas yang perlu mendapatkan perhatian karena tingginya permintaan masyarakat Kota Bandung, khususnya untuk kebutuhan industri kuliner dan pariwisata.

Baca juga: Menjanjikan, Ekspor Udang Sulsel Tembus Rp148 Miliar

“Memang harga yang sangat rentan adalah beberapa harga yang kita anggap sebagai barang-barang atau komoditas yang sensitif terhadap kenaikan harga,” ungkapnya, Senin (10/8).

Dilanjutkan oleh Farhan, tingginya kebutuhan bawang di Bandung tidak sebanding dengan jumlah produksi di daerah pemasok, salah satunya Brebes. Produktivitas bawang di wilayah tersebut disebut mengalami fluktuasi, sehingga turut memengaruhi pasokan dan harga di pasaran.

“Permintaan warga Bandung terhadap bawang Brebes sangat tinggi. Orang Bandung seleranya tinggi karena rata-rata bawangnya untuk wisata, untuk industri kuliner. Jadi permintaan bawang Brebes ini tinggi sekali, sedangkan produktivitas Brebes juga naik turun,” lanjutnya.

Selain bawang merah, komoditas yang berasal dari luar daerah maupun impor, seperti bawang putih dan bawang bombai, turut menjadi perhatian. Hal ini dikarenakan adanya potensi kekeringan akibat memasuki musim kemarau di sejumlah wilayah sentra produksi pangan.

“Agustus sampai Oktober belum musim tanam. Musim tanamnya mulai September. Jadi diharapkan September-Oktober ini tidak mengganggu,” terang Walkot yang juga mantan Presenter TV ini.

Guna mengantisipasi gangguan pasokan, menurutnya, pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian, serta Dinas Ketahanan Pangan, agar pasokan bahan pangan segar dari berbagai daerah tetap dapat masuk ke Kota Bandung.

“Yang kita lakukan sekarang adalah memastikan suplai bahan makanan segar dari 16 provinsi dan bahan-bahan impor semuanya bisa masuk ke Kota Bandung lewat dua-tiga pasar induk utama yang menjadi jaring rantai pasok utama di Kota Bandung,” jelasnya.

Di sisi lain, operasi pasar dinilai tetap dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Bandung untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama dari kelompok masyarakat yang dinilai rentan secara ekonomi berdasarkan pemetaan dari tingkat kelurahan.

“Operasi pasar tetap akan berjalan, terutama untuk mereka-mereka yang hasil masukan dari kelurahan adalah yang rentan daya belinya. Kelompok rentan daya beli akan dapat bantuan untuk membeli barang-barang yang murah tersebut,” tuturnya.

Iapun mengingatkan masyarakat agar memahami bahwa komoditas yang dijual dalam operasi pasar, memiliki karakteristik dan kualitas yang berbeda dengan produk premium di pasar modern.

“Harap maklum, kalau barang-barang murah kualitasnya tidak selevel supermarket. Seperti berasnya beras SPHP, tapi kalau beras premium, beras khusus, harganya tetap sama,” tukasnya.

Related News