Kisah Bocah Penjual Ikan Merajut Asa Bersekolah
Jagad Tani - Ketika anak-anak lain seusianya menikmati bangku sekolah, Muhammad Risky Pratama, bocah asal Labuhan Deli, Medan, yang kini berusia 12 tahun justru memilih membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, dengan berjualan ikan.
Hidup jauh dari orang tua, setelah ibunya merantau, dan sang ayah membangun lembaran baru bersama keluarga lainnya, sementara Risky akhirnya tinggal bersama kakeknya, Salamuddin (63), dan neneknya Masitah (55).
Baca juga: Petani Penajam Terima Kepastian Serapan Gabah Kering
Sehari-hari, ia terbiasa mengayuh sepeda keliling kampung untuk menjual ikan, yang dilakukan sejak berusia 9 tahun, bahkan pernah mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram (kg) ikan untuk dijual di sekitar Bagan Deli.
"Kadang sehari dapat Rp30 ribu, paling banyak dikasih Rp90 ribu kalau habis semua ikannya," tutur Risky melalui siaran pers Kementerian Sosial (Kemensos), dikutip Jumat (14/8).
Anak sulung dari empat bersaudara itu, mengaku tak tega melihat kakeknya yang bekerja mencari kerang harus menghidupi 13 anggota keluarga sendirian dengan penghasilan Rp30 ribu hingga Rp50 ribu sehari.
Di tengah keterbatasan itulah, membuat Risky rela untuk meninggalkan bangku sekolah agar bisa membantu memenuhi kehidupan keluarganya.
"Saya mau membantu nenek. Nenek banyak yang mau diurus. Adik saya, cucu nenek, anak nenek. Jadi saya sedih juga. Jadi saya bantu nenek cari uang," lanjutnya. "Hasil jualan dibagi nenek. Habis itu nenek beli beras dan pampers adek."
Dikenal sebagai anak yang pendiam, Risky sebetulnya menyimpan cita-cita menjadi tentara. Kesempatan mengejar cita-cita itu hadir ketika Nanda, seorang Petugas Penjangkau Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, mendatangi tempat tinggalnya.
Saat itu, Nanda mengajak Risky untuk masuk Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, dan kembali ke bangku sekolah. Meski awalnya Risky menolak, karena takut berbaur dengan orang-orang baru.
Akan tetapi, setelah diyakinkan oleh Nanda bahwa Sekolah Rakyat nyaman dan bakal banyak mendapatkan teman baru, akhirnya Risky mau untuk masuk ke Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan.
"Dua hari dibujuk-bujuk Pak Nanda 'Risky, ayo sekolah Risky'," ungkapnya.
Neneknya, yakni Masitah pun, turut mendorong agar Risky bersekolah dengan mengingatkan cita-cita sang cucu yang ingin menjadi seorang tentara. Di Sekolah Rakyat, Risky bisa mendapatkan pendidikan gratis, dengan biaya yang ditanggung oleh negara.
"Dulu saya menangis karena tak akan mampu menyekolahkan dia. Cita-cita dia tinggi, tapi uang tak ada. Sekarang saya menangis lagi, tapi menangis bahagia," ujar Masitah.
Ia pun merasa nyaman karena Sekolah Rakyat dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendidikan yang memadai. Lingkungan sekolah juga mendukung, Risky mendapat banyak teman baik.
Semenjak masuk asrama Sekolah Rakyat, Masitah turut melihat ada perubahan drastis yang terjadi pada diri Risky yang kini tumbuh menjadi bocah mandiri, percaya diri, dan makin taat beribadah.
"Perubahannya jauh kali. Kalau pulang ke rumah, sekarang keluyurannya bukan main-main lagi, tapi jalannya ke musala atau masjid," tutur Masitah.
Dari seorang anak yang sempat putus sekolah dan lebih banyak menghabiskan waktu di jalan untuk berjualan ikan, kini Risky kembali menikmati proses belajar serta tumbuh bersama teman-temannya, untuk mengejar cita-cita.

