• 16 August 2026

Jaga Keberlanjutan, Petani Harus Diberi Kepastian Harga

uploads/news/2026/08/jaga-keberlanjutan-petani-harus-144178ecab3b678.jpg

Jagad Tani - Memberikan kepastian harga kepada petani merupakan bagian dari keberlanjutan swasembada pangan. Hal itu diungkapkan oleh Firman Soebagyo selaku Anggota Komisi IV DPR RI. 

Menurut Firman, capaian swasembada yang disampaikan oleh Presiden Prabowo saat Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-81 di Gedung Nusantara II, isi pidato itu dinilai harus diikuti oleh kebijakan yang mampu menjaga gairah produksi petani dalam jangka panjang.

Baca juga: Nelayan Kepulauan Seribu Diundang Upacara ke Istana

Capaian swasembada beras, kata Firman, jadi perkembangan positif, sebab, target produksi yang sebelumnya diproyeksikan untuk 2027 telah dapat dicapai lebih awal pada 2025–2026 dengan capaian sekitar 5,3 juta ton. Kondisi stok beras saat ini, menurutnya, juga masih berada pada posisi aman.

Salah satu faktor yang mendorong tercapainya hal tersebut, yakni dikarenakan adanya kebijakan penetapan harga pembelian bagi petani. Kebijakan itu membuat petani lebih nyaman menjual hasil produksinya kepada Bulog karena harga yang ditawarkan dinilai lebih kompetitif.

“Petani itu mau untuk menanam varietas atau komoditas tertentu asal ada jaminan harga. Oleh karena itu, saya mengusulkan komoditas tertentu ditetapkan harganya oleh pemerintah seperti beras,” ujar Firman melalui Parlementaria, dikutip Minggu (16/8).

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa pendekatan serupa perlu dipertimbangkan untuk sejumlah komoditas pertanian lainnya. Kepastian harga dinilai penting agar petani memiliki kepastian usaha, serta terdorong meningkatkan produksi dalam negeri.

Firman juga mengingatkan pemerintah, agar tidak sepenuhnya menyerahkan komoditas pangan strategis kepada mekanisme pasar bebas. Pasalnya, produk pertanian dalam negeri masih menghadapi persaingan dengan produk impor.

“Komoditas tertentu tidak bisa dilepas melalui mekanisme pasar bebas. Kita tidak mampu bersaing dengan impor. Kuncinya adalah produksi dalam negeri ditingkatkan secara bertahap dan impornya juga dikurangi secara gradual,” ucapnya.

Tentu kebijakan pangan harus memperhatikan keseimbangan antara kepentingan petani dan konsumen. Harga komoditas perlu berada pada tingkat yang memberikan keuntungan layak kepada petani, tetapi tetap terjangkau masyarakat.

Oleh karena itu, Firman mendorong agar jangan hanya capaian swasembada beras yang dipertahankan, tetapi juga sistem pangan yang berkelanjutan harus dibangun, terutama untuk berbagai komoditas.

Menurutnya, keberhasilan membangun sistem pangan tersebut membutuhkan kebijakan harga, peningkatan produksi, pengendalian impor, serta inovasi bahan pangan secara terpadu. “Kalau itu dilakukan, saya yakin akan bisa stabil,” pungkasnya.

Related News