Lada Putih Babel Tembus Belanda, UMKM Diperkuat
Jagad Tani - Sebagai upaya pengoptimalan potensi komoditas unggulan daerah, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tentunya harus diperkuat. Misalnya pada komoditas lada putih yang jadi salah satu potensi unggulan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).
Menurut Penjabat Sekretaris Daerah (Pj. Sekda) Babel, Fery Afriyanto program holding UMKM merupakan upaya membangun ekosistem kemitraan bisnis berbasis kluster, khususnya komoditas lada putih Muntok (Muntok White Pepper) yang akan diekspor ke Belanda.
Baca juga: Nelayan Kepulauan Seribu Diundang Upacara ke Istana
?"Kita ingin komoditas unggulan di Babel, khususnya lada putih Muntok, tidak berhenti sebagai komoditas primer, tetapi mampu berkembang menjadi produk bernilai tambah, memiliki standar kualitas yang kuat, dan semakin luas menembus pasar nasional maupun internasional," terang Fery.
?Bahkan demi mendukung hal tersebut, Holding UMKM di sektor pertanian dan perkebunan diluncurkan (launching) di Kebun Nusantara PT Cinquer Argo Nusantara (CAN), Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (15/8).
Peluncuran holding ini menjadi bagian dari program percontohan (role model) pengembangan UMKM terintegrasi dari hulu ke hilir. Khusus untuk komoditas unggulan lada putih Muntok, PT CAN ditetapkan sebagai operator holding setelah mengantongi hasil asesmen kualifikasi.
?Lada menjadi salah satu komoditas yang memiliki sejarah dan identitas kuat di Babel, pengembangan lada diharapkan mampu memberi nilai tambah bagi petani sekaligus membuka peluang besar bagi UMKM untuk tumbuh dan berkembang.
Berdasarkan data Provinsi Babel, terdapat 133.452 UMKM dengan 123.481 (92,53%) di antaranya merupakan usaha mikro, sebab usaha kecil ada sebanyak 9.428 sedangkan usaha menengah sebanyak 543. Adapun kontribusi UMKM bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Babel sebesar 53,21%.
?"Oleh karena itu, tantangan kita ke depan bukan hanya bagaimana menambah jumlah, melainkan bagaimana menaikkan kelas UMKM, meningkatkan produktivitas, memperkuat akses pembiayaan dan pasar, serta menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi," terang Fery.
Sementara itu, Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah, Metty Kusmayantie, menerangkan alasan PT CAN ditetapkan sebagai operator Holding UMKM, yakni berdasarkan hasil asesmen kelayakan dengan skor komposit 4,08 dari skala 5,00, yang berada pada kategori sangat baik (excellence).
?“Kami telah melakukan asesmen terhadap sejumlah calon operator holding UMKM yang potensial untuk dikembangkan sebagai role model. Holding UMKM ini berpijak pada empat pilar utama, yaitu agregasi, inkubasi, pemasaran, dan pembiayaan,” ujar Metty.
?Menurutnya, usaha menengah ini menjadi poros penggerak penguatan UMKM, dan akan diperkuat melalui SAP UMKM sebagai ekosistem layanan UMKM yang menghubungkan program pemerintah pusat dan daerah, lembaga keuangan, BUMN, BUMD, serta sektor swasta dan mitra usaha.
Sedangkan, Hatami Nugraha selaku Pendiri & CEO PT CAN menjelaskan bahwa masalah lada tidak bisa diselesaikan hanya dari sisi produksi, melainkan membutuhkan perbaikan ekosistem secara menyeluruh melalui pemberdayaan petani, keterelusuran produk, dan pengolahan nilai tambah untuk pasar global maupun domestik.
?"Perusahaan menjalin kolaborasi resmi dengan Kementerian UMKM termasuk akses pembiayaan KUR Massal, Badan Karantina Indonesia, serta pemerintah daerah melalui kegiatan ini untuk peluncuran pengiriman komoditas lada Bangka Belitung menuju Belanda," imbuh Hatami.

