• 21 August 2026

Walet Banten Catatkan Ekspor Senilai Rp38,7 Miliar

uploads/news/2026/08/walet-banten-catatkan-ekspor-841752fec2982f2.jpg

Jagad Tani - Sejumlah komoditas unggul Banten berhasil di ekspor menuju China dan Taiwan. Sarang burung walet bahkan mencatatkan nilai ekspor terbesar, yakni mencapai Rp38,7 miliar, saat pelepasan di Satuan Pelayanan Bandara Soekarno-Hatta, pada Jumat (21/8).

Selain sarang burung walet, komoditas yang dilepas meliputi, manggis, dan kepiting, ini dinilai oleh Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding, sebagai upaya pembuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia.

Baca juga: Sistem Pertanian yang Menguntungkan, Tanpa Penambahan Lahan

“Semangat Merdeka Ekspor bukan sekadar slogan, tetapi komitmen nyata untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” ujar Karding dalam pelepasan yang bertajuk Merdeka Ekspor Komoditas Unggulan Banten. 

Karding, menambahkan bahwa layanan karantina perlu berjalan beriringan dengan pendampingan pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Supaya mereka memahami persyaratan negara tujuan, agar produknya memenuhi standar kesehatan dan keamanan pasar global. 

“UMKM lokal perlu kita dampingi melalui klinik ekspor agar komoditas Banten memenuhi persyaratan kesehatan karantina negara tujuan. Dengan kesiapan yang baik, pelaku usaha akan memiliki peluang yang lebih besar untuk memperluas pasar hingga ke tingkat internasional,” tuturnya.

Bahkan nilai ekspor dari seluruh komoditas unggulan Banten tersebut mencapai Rp40,8 miliar. Adapun nilai ekspor dari komoditas kepiting mencapai Rp1,9 miliar, dan manggis Rp200 juta.

Karding mengatakan, angka tersebut menunjukkan bahwa komoditas ekspor bernilai ekonomi tinggi, tak luput juga sebagai hasil kerja keras pihak yang terlibat mulai dari petani, nelayan, pelaku usaha, eksportir, hingga seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasok.

Menurut Karding, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan ketika produk akan dikirim ke luar negeri. Kesiapan ekspor perlu dibangun sejak proses produksi melalui penerapan standar, pengendalian mutu, ketertelusuran, serta pemenuhan persyaratan negara tujuan.

“Ekspor yang kuat dimulai sejak produk dihasilkan dengan standar yang benar. Karena itu, pemerintah dan pelaku usaha harus bekerja bersama sejak awal agar produk Indonesia tidak hanya bisa masuk ke pasar global, tetapi juga mampu bertahan dan bersaing di sana,” katanya.

Sementara itu, Duma Sari M H, Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Banten mengatakan, Karantina Banten berkomitmen mendekatkan layanan kepada pelaku usaha, termasuk UMKM yang ingin mengembangkan pasar ekspor.

“Kami ingin layanan karantina semakin dekat dengan pelaku usaha. Melalui klinik ekspor, bazar UMKM, dan mini expo komoditas unggulan Banten, kami membuka ruang bagi pelaku usaha untuk berkonsultasi dan memahami berbagai persyaratan yang harus dipenuhi,” jelas Duma.

Bahkan pendampingan sejak awal menjadi penting agar pelaku usaha bukan cuma berfokus pada produksi, tetapi juga dapat memahami persyaratan teknis dan kesehatan yang ditetapkan oleh negara tujuan.

“Kami berharap semakin banyak UMKM Banten yang berani melihat pasar global sebagai tujuan. Karantina Banten siap memberikan pendampingan agar pelaku usaha lebih siap memenuhi persyaratan ekspor dan mampu menjaga konsistensi kualitas produknya,” paparnya.

Adapun  Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan, bahwa pengembangan UMKM berorientasi ekspor membutuhkan kolaborasi antar pihak di dunia usaha ini dan pemangku kepentingan lainnya.

“UMKM merupakan salah satu kekuatan ekonomi Banten. Karena itu, kita harus terus mendorong pelaku usaha agar tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga naik kelas dan mampu menembus pasar internasional,” ucap Andra.

Momentum “Merdeka Ekspor” di Banten jadi bagian dari  penguatan posisi daerah sebagai salah satu wilayah strategis perdagangan komoditas nasional. Nilai ekspor Rp40,8 miliar menunjukkan jika komoditas Banten bisa terus dikembangkan.

Related News