Kawasan Pegunungan Tebet, Perbatasan Nepal-China Dihantam Banjir
Jagad Tani - Serentetan bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini, bukan hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga melanda kawasan Asia lainnya, sebab peristiwa banjir akibat longsor di hulu sungai turut melanda perbatasan Nepal dan China, yang notabene berada di kawasan Pegunungan Tibet.
Peristiwa yang terjadi pada Rabu (26/8) tersebut, terjadi setelah material lumpur dan batu dalam jumlah besar longsor ke sungai, akibatnya aliran air bercampur lumpur itu menerjang wilayah Nepal dan menyebabkan banjir bandang yang dahsyat, dan awasan yang terdampak merupakan bagian dari jalur populer menuju Kailash Manasarovar di Tibet.
Baca juga: Ikan Kiamat Ditemukan Terdampar di Lombok Timur
Mengutip dari Nepali Times, wilayah Nepal yang terletak di hilir Dataran Tinggi Tibet di China, memiliki titik buta dalam hal kesiapsiagaan bencana. Bencana di hulu akan menjadi bencana di hilir, namun sebagian besar kesiapan menghadapi banjir di Nepal dimulai begitu dua sungai Bhote Kosis, Karnali atau Arun, memasuki wilayah Nepal.
Bahkan Dataran Tinggi Tibet memasok air ke beberapa sungai utama di Asia, dan gletser, danau glasial, lapisan es abadi, serta bentang alamnya berubah seiring dengan pemanasan iklim. Bagi Nepal, apa yang terjadi di sisi lain Himalaya dapat berujung pada banjir yang menewaskan orang dan menghancurkan infrastruktur.
Kedua sungai Bhote Kosis bermula di Tibet, satu melintasi perbatasan ke Nepal di Kodari dan yang lainnya ke Rasuwa Gadi. Dalam kedua kasus tersebut, sungai-sungai yang curam mengalir melalui ngarai yang dalam dan melewati permukiman, proyek pembangkit listrik tenaga air, dan jalan-jalan yang membentuk dua jalur perdagangan utama Nepal-China.
Masalahnya bukan hanya Nepal yang rentan terhadap banjir, terkadang, bahaya yang menyebabkan banjir di Nepal bermula di tempat lain, misalnya pada 8 Juli 2025, banjir tiba-tiba melanda Bhote Kosi di Rasuwa Gadi yang menewaskan18 orang, Jembatan Persahabatan di Rasuwa Gadi hancur, proyek pembangkit listrik tenaga air, jalur transmisi, gardu listrik, hingga jalan antara Nepal dan China alami kerusakan.
Kawasan Rasuwa Gadi sendiri merupakan jalur wisatawan menuju wilayah Langtang, salah satu destinasi pendakian paling populer di Nepal. Jalur tersebut juga menjadi jalan bagi pelancong menuju Gunung Kailash dan Danau Mansarovar di China.
Banjir kali ini bahkan memakan banyak korban, bukan cuma dari warga kedua negara, tapi juga para turis asing dari mancanegara yang sedang berwisata di Trishuli, Distrik Nuwakot, Nepal. Bahkan tanah longsor yang terjadi di sisi Nepal, menghantam Pelabuhan Gyirong di Kabupaten Gyirong, Xizang, China.
Kantor berita Xinhua melaporkan, hingga pukul 8 pagi hari Kamis (27/8), di wilayah otonom Xizang, China, sebanyak 3 orang tewas, 558 lainnya masih hilang, sementara dua warga desa setempat telah diselamatkan setelah tanah longsor melanda pelabuhan di sepanjang perbatasan China-Nepal.
Sementara itu berdasarkan laporan The Guardian, lebih dari 1.000 orang kini dinyatakan hilang setelah banjir bandang dahsyat di Nepal dan Tibet, yang sebagian besar adalah wisatawan. Sedikitnya 165 orang dipastikan tewas, baik di Nepal maupun di China, di mana 558 orang lainnya dilaporkan hilang.
Menurut badan penanggulangan bencana Nepal, dikatakan 823 orang masih belum dapat dihubungi pada hari Kamis (27/8), lebih dari 24 jam setelah bencana terjadi. Dalam pembaruan laporan yang dikeluarkan, dari 823 orang tersebut terdiri dari 579 wisatawan, yang terdiri dari wisatawan asal Nepal maupun asing.
Bahkan pejabat Kementerian Pariwisata Nepal mengatakan kepada sejumlah media bahwa lebih dari 400 wisatawan masih hilang, termasuk sekitar 340 warga negara asing.
Adapun Sunil Sharma, selaku juru bicara Nepal Tourism Board, mengatakan kepada Associated Press bahwa 133 wisatawan yang hilang merupakan warga India yang sedang melakukan perjalanan ziarah. Selain itu, 47 wisatawan yang hilang berasal dari Amerika Serikat, 34 dari Australia, 33 dari Inggris, dan 24 dari Kanada.

