Pinang Jambi Bergeliat, Tren Ekspor Terus Meningkat
Jagad Tani - Dalam tiga tahun terakhir, ekspor pinang dari Jambi menunjukkan tren peningkatan, salah satu varietas unggulan Jambi, yakni Pinang Betara, kain memperkuat posisinya setelah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis pada Juni 2026.
Berdasarkan data sertifikasi Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jambi (Karantina Jambi), tahun 2024 tercatat sebanyak 804 kali pengiriman dengan nilai Rp632,8 miliar, dan meningkat lebih dari dua kali lipat di tahun 2025, yakni mencapai Rp1,3 triliun.
Baca juga: Harga Daging Sapi Naik, Sejumlah Langkah Dilakukan
Hingga tahun 2026 berjalan, ekspor pinang Jambi bahkan telah mencapai Rp787,9 miliar melalui 421 kali pengiriman. Potensi tersebut juga ditopang oleh produksi pinang di Jambi yang tercatat mencapai 32.388 ton, dan berasal dari 28.617 kepala keluarga petani.
Melalui webinar series Go Ekspor yang digelar setiap Rabu dan digagas Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Karantina. Kepala International Trade Promotion Center (ITPC) Chennai, India, Amesta Yisca Putri, selaku narasumber memberi gambaran soal potensi dan tantangan pasar India bagi eksportir pinang asal Indonesia.
"India merupakan salah satu tujuan utama ekspor pinang Indonesia. Namun, negara tersebut menerapkan sejumlah kebijakan proteksi, di antaranya tarif impor 100% dan Minimum Import Price (MIP) sebesar INR 351 per kilogram," ungkap Amnesta.
Selain kebijakan perdagangan, eksportir juga harus memperhatikan berbagai ketentuan keamanan pangan yang diterapkan negara tujuan. Kondisi tersebut ditujukan untuk membuat pemenuhan persyaratan karantina menjadi bagian penting dalam proses ekspor.
Tentunya Pinang Betara sebagai salah satu varietas unggulan asal Jambi, setelah memperoleh Sertifikat Indikasi Geografis, diharapkan dapat menjadi salah satu modal untuk meningkatkan daya saing produk di pasar internasional.
Dalam keterangannya, Kepala PPSDM Karantina, Wisnu Wasisa Putra, mengatakan jika melalui Klinik Ekspor dan penguatan layanan sertifikasi, komoditas yang diekspor tidak hanya memenuhi persyaratan, tetapi juga dapat diterima hingga negara tujuan.
"Ini bagian dari upaya membangun kepercayaan bersama dan memperkuat posisi komoditas unggulan Indonesia di pasar internasional," ungkap Wisnu.
Iapun melanjutkan bahwa, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki posisi penting dalam rantai pasok komoditas ekspor, termasuk pinang. Oleh karena itu, pihaknya akan terus memperluas pendampingan teknis dan literasi ekspor.
"(Kami) akan terus memperluas program pendampingan teknis dan literasi ekspor, agar pelaku usaha kecil dan menengah mampu memenuhi standar karantina domestik sekaligus persyaratan ketat negara tujuan," tegasnya.
Salah satu eksportir pinang asal Jambi, PT Bintang Timur Serumpun, telah merealisasikan lebih dari 600 kontainer ekspor sejak 2021, dan telah memenuhi sejumlah dokumen ekspor, seperti Phytosanitary Certificate, Certificate of Origin, dan Fumigation Certificate.
Dokumen-dokumen tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa komoditas telah memenuhi syarat sebelum dikirim ke negara tujuan, dan tentunya mempunyai peluang untuk diekspor ke India.
Mengenai hal itu, Kepala Karantina Jambi, Sudiwan Situmorang, menilai jika seluruh komoditas pertanian dan perikanan yang memenuhi standar sanitari dan fitosanitari internasional, dengan jaminan kesehatan dan keamanan hayati,akan berdaya saing tinggi.
"Dengan jaminan kesehatan dan keamanan hayati, produk lokal akan memiliki daya saing tinggi dan hambatan dagang di pasar global dapat diminimalisir," ungkap Sudiwan.
Upaya memperkuat ekspor pinang Jambi, juga harus diperkuat oleh kapasitas petani, sehingga Jambi tidak hanya mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi mampu meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan produk turunan.
Fungsi karantina, lanjut Sudiwan, tidak berhenti pada pengawasan komoditas di pintu keluar-masuk negara, tapi juga pada pemenuhan standar kesehatan, keamanan hayati, persyaratan sanitari dan fitosanitari, agar membuka akses perdagangan serta meningkatkan daya saing produk Indonesia.
"Kehadiran karantina yang transformatif, adaptif, dan akuntabel di tengah ekosistem perdagangan internasional akan menjadi katalisator utama yang mengubah potensi lokal menjadi prestasi global," tandasnya.

