• 30 August 2026

Siasat Menghasilkan Cuan di Lahan Sempit dengan Bertani Kakao

uploads/news/2026/08/siasat-menghasilkan-cuan-di-583179edaee031a.jpeg

Jagad Tani - Dalam memanfaatkan lahan yang sempit jadi lahan produktif, tentu perlu kejelian dalam menangkap peluang komoditas yang cocok ditanam. Tapi ada banyak jalan menuju cuan, termasuk dengan yang dilakukan oleh Kesi Sutarji, petani kakao.

"(Lahan yang saya kelola itu) enggak luas banget sih, cuma seperempat (hektare) aja. Pohonnya kurang lebih 300 batang," ungkap ibu Kesi Sutarji, saat ditemui di kebunnya, di Pringsewu, Lampung, Rabu (26/08).

Baca juga: Hari Pertama Flona Ramai, Segini Harga Tanamannya

Menurut Kesi, kunci penanaman yang dilakukan terletak pada pemilihan varietas yang bisa ditanam rapat dan cepat berbuah, sehingga petani tidak perlu menunggu waktu bertahun-tahun tanpa hasil untuk mulai menikmati jerih payahnya.

Memilih Varietas Kakao Unggulan
Adapun varietas yang dipilih yakni varietas Masamba Cacao Clone (MCC 022) yang merupakam klon kakao unggulan lokal asal Sulawesi Selatan, dan cukup populer dikalangan petani, karena produktivitasnya yang cukup tinggi serta memiliki ketahanan terhadap penyakit.

"Kakao jenis ini bentuk (luar)nya (atau warna kulitnya) merah, di dalamnya (bentuk) bijinya agak gepeng," jelas Kesi. 

Iapun melanjutkan bahwa setelah melewati masa belajar panen, pohon kakao jenis MCC yang kulitnya berwarna merah ini baru akan mulai berproduksi secara berkelanjutan.

"Kalau dari (masa) tanam itu (kakao jenis ini membutuhkan waktu) sekitar 2 tahun kita sudah (bisa melihat si tanaman) mulai belajar panennya,"  tambahnya.

Panen Seminggu Sekali, Tembus 20 Kg
Salah satu keunggulan kakao varietas MCC jika dibandingkan varietas lainnya, sebab masa panennya yang relatif stabil dan merata sepanjang tahun, meskipun produksi bisa sedikit menurun (ngetrek) saat dilanda oleh musim kemarau yang ekstrem.

"Kalau sudah mulai panen dan lebat itu, satu minggu sekali kita ngambilnya (panen). Sekali petik kurang lebih ada 20-an kilo biji kering," jelasnya sembari tersenyum optimis.

Dengan rentang waktu penjemuran yang relatif singkat, dan hanya butuh satu hari penjemuran langsung di bawah terik matahari, biji kakao kering tersebut sudah siap jual, dan bisa langsung menghasilkan pundi-pundi keuntungan.

Nilai Ekonomi
Meskipun harga kakao di pasar sangat fluktuatif karena mengikuti pergerakan kurs dolar dan pasar dunia, Kesi menilai, jika potensi keuntungannya tetap menggiurkan.

Untuk harga kakao kering pada saat ini berkisar di angka Rp60.000 hingga Rp84.000 per kilogram, bahkan pernah menyentuh rekor tertinggi hingga Rp150.000 per kilogram.

Terlepas dari pilihan varietasnya, menurut Kesi, apa pun jenis varietas kakao yang dipilih oleh petani, semuanya memiliki potensi hasil yang sama bagusnya jika dibarengi dengan komitmen perawatan yang maksimal.

"Semuanya bagus, tinggal perawatannya. Pokoknya perawatan (menentukan) hasilnya," imbuhnya.

Selain itu, Kesi juga menyarankan bagi pemula yang tertarik untuk menjajal gurihnya bisnis cokelat ini, ada sebuah tips sederhana namun krusial dan menjadi penentu keberhasilan budidaya kakao di lapangan.

"(Bagi yang berminat terjun di bidang ini) kita harus teliti dan telaten pokoknya," pungkas Kesi Sutarji.

 

Related News