Potensi Ulat Sagu, Dari Hama Jadi Pangan
Jagad Tani - Jika selama ini ulat sagu dikenal sebagai musuh tanaman yang dapat mengancam produktivitas perkebunan sagu, karena karena menyerang batangnya. Ternyata larva Rhynchophorus spp. ini memiliki potensi jadi sumber protein alternatif, sebagai bahan baku pangan, pakan, dan industri.
Menurut Puji Lestari selaku Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sagu memiliki posisi strategis dalam diversifikasi pangan nasional.
Baca juga: Siasat Menghasilkan Cuan di Lahan Sempit dengan Bertani Kakao
Hal itu dikarenakan, selain dapat menjadi alternatif sumber pangan, sagu juga dinilai berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri dan sumber ekonomi masyarakat.
Ulat sagu memiliki yang posisi unik, jelas Puji, di satu sisi, serangga ini dapat merusak batang dan menurunkan produktivitas tanaman sagu. Di sisi lain, larvanya telah lama dimanfaatkan sebagai pangan tradisional dan memiliki potensi sebagai sumber protein.
“Di satu sisi memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif yang berkelanjutan, tetapi di sisi lain juga berperan sebagai hama,” ungkap Puji dalam siaran persnya dikutip Minggu (30/8).
Adapun salah satu temuan menarik dipaparkan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP) ORPP BRIN, Rein E. Senewe, melalui kajian bioekologi Rhynchophorus spp. pada tanaman inang utama sagu.
Dalam penelitiannya, Rein mengamati perkembangan larva pada batang sagu yang telah ditebang dan mengidentifikasi lima tahap perkembangan atau instar.
Proses pengamatan tersebut dinilai penting, untuk mengetahui dinamika pertumbuhan sekaligus menentukan fase yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein.
Hasilnya, terdapat periode yang disebut sebagai “jendela panen emas”, yakni sekitar 75-90 hari setelah batang sagu ditebang, biomassa larva berada dalam kondisi potensial untuk dimanfaatkan, dengan biomassa maksimum yang diamati mencapai sekitar 4,62 gr.
Temuan ini menjadi menarik, ungkap Rein, karena membuka kemungkinan pemanfaatan larva yang berkembang pada batang sagu setelah penebangan, sekaligus memberikan informasi biologis yang dibutuhkan untuk mengembangkan pemanfaatannya secara terukur.
Kajian yang dipaparkan oleh Rein ini menunjukkan tepung kering ulat sagu berpotensi memiliki kadar protein hingga sekitar 60%. Selain protein, tepung tersebut juga mengandung lemak serta asam lemak omega 3, 6, dan 9.
"Potensi kandungan tersebut, membuat ulat sagu menarik untuk dikaji lebih jauh sebagai sumber protein alternatif di tengah kebutuhan terhadap sumber pangan berkelanjutan," jelasnya.
Namun, Rein menekankan bahwa pemanfaatan ulat sagu sebagai pangan tidak bisa dilakukan semata-mata berdasarkan kandungan nutrisinya. Aspek bioekologi, keamanan pangan, serta risiko penyebaran atau peningkatan serangan hama harus menjadi bagian penting dalam pengembangannya.
Sementara itu, Anang Setyo Budi, Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi ORHL BRIN, menjelaskan bahwa identifikasi Rhynchophorus tidak cukup hanya berdasarkan warna atau bentuk tubuh.
"Identifikasi perlu menggabungkan karakter morfologi, morfometri, genitalia, hingga analisis molekuler melalui pendekatan taksonomi integratif. Hal tersebut penting karena masih ditemukan potensi kesalahan identifikasi, termasuk dalam membedakan R. vulneratus dan R. ferrugineus yang memiliki kemiripan morfologi," papar Anang.
Di Indonesia sendiri, untuk R. vulneratus lebih banyak ditemukan di wilayah barat, sedangkan R. bilineatus lebih banyak berasosiasi dengan ekosistem sagu di wilayah timur.
Adapun Setiari Marwanto, selaku Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN, menilai agar perspektif terhadap ulat sagu ini perlu diperluas.
Setiari menambahkan, sagu merupakan komoditas strategis yang memiliki nilai pangan, industri, ekologis, dan sosial, tetapi keberlanjutan perkebunannya menghadapi berbagai tantangan, termasuk serangan Rhynchophorus spp.
"Karena itu, tantangannya bukan sekadar bagaimana membasmi ulat sagu, tetapi juga bagaimana mengelola dan memanfaatkannya secara aman, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi," tegasnya.

