Waspadai Brucellosis, Sapi Bisa Terserang Tanpa Gejala
Jagad Tani - Sapi yang tampak sehat belum tentu terbebas dari Brucellosis, yakni penyakit yang bisa menyebabkan gangguan reproduksi pada sapi. Uniknya, penyakit ini tidak selalu menunjukkan gejala, dan dapat menular dari hewan kepada manusia.
Brucellosis sendiri merupakan salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pada sapi, karena dapat mengganggu sistem reproduksi, sehingga cukup merugikan para peternak.
Baca juga: Minyak Kelapa Berpotensi Jadi Bahan Bakar Pesawat
Untuk sapi betina, ada sejumlah ciri yang perlu diwaspadai, mulai dari keguguran, ari-ari yang tidak cepat keluar saat melahirkan, kelahiran pedet dalam kondisi lemah atau mati, gangguan kesuburan, hingga kawin berulang.
Sementara untuk sapi pejantan, penyakit ini bisa menyebabkan gangguan pada testis dan menurunkan kualitas semen. Namun, sapi yang terinfeksi tidak selalu menunjukkan adanya gejala. Sehingga pemeriksaan klinis belum cukup untuk memastikan sapi bebas dari Brucellosis.
Opsinya yakni melalui pemeriksaan laboratorium, untuk mendeteksi penyakit tersebut, terutama bagi hewan yang akan dilalulintaskan. Hasil uji laboratorium yang negatif jadi salah satu bukti dalam memastikan sapi tidak membawa Brucellosis.
Menurut Hudiansyah Is Nursal, selaku Plt. Kepala Karantina Jawa Timur, setiap hewan yang akan dilalulintaskan seperti sapi, tentunya harus memenuhi persyaratan kesehatan dan menjalani tindakan karantina sesuai ketentuan, supaya bisa meminimalisir penyebaran penyakit.
“Setiap hewan yang akan dilalulintaskan harus memenuhi persyaratan kesehatan dan melalui tindakan karantina sesuai prosedur. Hal ini penting untuk mencegah masuknya penyakit dan mempertahankan status kesehatan suatu area,” ucap Hudiansyah, Jumat, (4/9).
Bahkan dalam pengawasan terbaru, sebanyak 6 ekor sapi potong asal Bawean dengan tujuan Madura menjalani tindakan karantina, dan dilakukan di tempat pengeluaran di Pelabuhan Sangkapura serta tempat pemasukan di Pelabuhan Lamongan.
Tentunya sapi yang akan dilalulintaskan harus melalui pemeriksaan kesehatan, verifikasi dokumen, pengujian laboratorium, dan pengawasan lalu lintas hewan.
Pengawasan itu dilakukan untuk memastikan sapi yang dilalulintaskan memenuhi syarat kesehatan, sekaligus mencegah masuk dan tersebarnya penyakit hewan, termasuk Brucellosis, dari satu wilayah ke wilayah lain.
"Pengawasan lalu lintas ternak menjadi salah satu instrumen penting untuk mencegah penyakit terbawa dari daerah asal dan menyebar ke populasi ternak di daerah tujuan," tegasnya.
Mengingat penyakit Brucellosis ini bukan hanya persoalan kesehatan bagi ternak saja, karena penyakitnya bersifat zoonosis (dapat menular dari hewan kepada manusia) sehingga pencegahannya berkaitan dengan perlindungan kesehatan masyarakat.

