Erupsi Anak Krakatau, Penghasilan Nelayan Menyusut
Jagad Tani - Erupsi Gunung Anak Krakatau turut berdampak terhadap aktivitas dan hasil tangkapan nelayan di perairan Selat Sunda. Meski nelayan mulai kembali melaut, pendapatan dari hasil tangkapan saat erupsi mengalami penurunan.
Hal itu disampaikan Sadar, warga kawasan pesisir Pantai Carita, Pandeglang, Banten. Menurutnya, saat erupsi terjadi, sejumlah nelayan masih tetap melaut, termasuk kakaknya yang sedang mencari ikan di kawasan Pulau Serdang dan Pulau Sertung.
Baca juga: Tanaman Hias Punya Cerita, Segini Harga-Harganya
"Dari letusan yang kemarin, abang saya juga sedang mengambil ikan di daerah (Pulau) Serdang dan (Pulau) Sertung, itu lokasinya berada di dekat (Gunung Anak) Krakatau yang aktif kemarin," ujar Sadar saat dihubungi Jagad Tani via telepon, Selasa (8/9).
Sadar mengatakan, kondisi masyarakat pesisir saat ini sudah relatif normal. Namun, abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau tersebut masih dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah.
Rumah kediaman Sadar sendiri berada sekitar 100 meter dari bibir Pantai Carita. Ia menyebut, salah satu dampak yang paling terasa bagi warga pesisir adalah sebaran abu vulkanik.
"Rumah saya pas berada di depan bibir pantai, sekitar 100 meter. Yang jadi kendala paling dari abunya saja, abu asap dari vulkaniknya," katanya.
Pendapatan Nelayan Menurun
Menurut Sadar, aktivitas erupsi juga berpengaruh terhadap pendapatan nelayan. Hasil tangkapan sebenarnya masih diperoleh, akan tetapi jumlah pendapatan yang dibawa pulang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan kondisi normal.
Ia menuturkan, dalam kondisi normal, nelayan yang melaut selama dua hari dua malam dapat membawa uang dari hasil penjualan ikan yakni sekitar Rp300.000-Rp400.000.
"Kalau untuk nelayan saat kemarin erupsi, dapat sih dapat, cuma penghasilannya agak berkurang. Biasanya setelah dua hari dua malam melaut, itu bisa membawa uang sekitar Rp300.000-Rp400.000," ujarnya.
Namun pada saat erupsi berlangsung dan kondisi perairan turut mengalami guncangan, pendapatan yang diperoleh nelayan turun menjadi sekitar Rp150.000-Rp200.000 meski waktu melaut lebih lama.
"Kemarin pas lagi erupsi, ada guncangan juga di bawah airnya kan, jadi ikan-ikannya terhambat (penangkapannya), bawa uang (hasil tangkapan ikannya) cuma sekitar Rp150.000-Rp200.000, itu padahal sudah dua hari tiga malam di laut," kata Sadar.
Adapun jenis ikan yang biasa menjadi target tangkapannya, yakni berupa tuna dan tenggiri. Namun, dikatakan bahwa hasil tangkapan ikannya tidak selalu mendapatkan jenis ikan tertentu, karena hasil tangkapan sangat bergantung pada kondisi di laut.
"Kalau untuk saya, ikan yang biasanya ditangkap itu ikan tuna sama ikan tenggiri," ujarnya.
Nelayan Mulai Kembali Melaut
Sadar mengatakan, aktivitas nelayan saat ini mulai kembali berjalan. Meski demikian, nelayan tetap meningkatkan kewaspadaan ketika aktivitas vulkanik Anak Krakatau kembali meningkat.
Menurutnya, nelayan tidak berani mendekati kawasan erupsi ketika kondisi gunung sedang aktif. Mereka memilih menjaga jarak dan mengamati dari lokasi yang dianggap lebih aman.
"Kalau lagi aktif, kita tidak berani mendekatinya, paling dari kejauhan. Dari sekitar 300 meter dari area kita sandar kapal," katanya.
Ia juga mengingatkan agar informasi mengenai aktivitas Anak Krakatau disampaikan secara proporsional agar kewaspadaan masyarakat tidak berubah menjadi kepanikan.
Menurut Sadar, masyarakat pesisir sudah terbiasa dengan aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan, tetapi masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya.
"Sebagai masyarakat di tepian pantai, waspada boleh, cuma jangan sampai kewaspadaan tersebut menimbulkan ketakutan bagi masyarakat setempat," pungkasnya.

