• 27 September 2026

Jamur Dinilai Potensial Jadi Pangan Fungsional Baru

uploads/news/2026/09/jamur-dinilai-potensial-jadi-553227d7fe8fbc5.jpg

Jagad Tani - Jamur yang selama ini kita kenal sebagai bahan makanan yang lezat dan mudah diolah, ternyata hanyalah 10% dari sekitar 10.000 jenis jamur di dunia yang dapat dikonsumsi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Iwan Saskiawan, Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selain itu jamur dinilai menyimpan potensi gizi dan senyawa aktif yang dapat dikembangkan sebagai pangan fungsional.

Baca juga: Impor Beras Ilegal Bisa Rugikan Pangan Nasional

“Dari sekitar sepuluh ribuan jamur yang ada di muka bumi ini, hanya sekitar kurang dari 10% spesies yang dapat dimakan atau edible,” ujarnya dalam podcast Kelas Periset BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Ir. Soekarno, Cibinong, dikutip Minggu (27/9).

Iwan melanjutkan bahwa jamur itu rata-rata mengandung 19-35% protein, berbagai vitamin dan mineral, serta serat yang mencapai 7,4-24,6%, dan jamur pangan yang selama ini dikonsumsi, merupakan tubuh buah dari jamur berukuran makroskopis.

Jamur dinilai tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat menghasilkan makanan sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, jamur menghasilkan enzim yang menguraikan senyawa kompleks di lingkungan sekitarnya menjadi senyawa sederhana yang dapat diserap.

Berdasarkan hasil penelitiannya, Iwan menyebutkan rata-rata jamur mengandung 19-35% protein, lebih tinggi dibandingkan beras yang sekitar 7,38% dan gandum 13,2%.

"Selain itu, jamur juga mengandung sekitar sembilan jenis asam amino esensial, sementara sekitar 72% kandungan lemaknya merupakan lemak tidak jenuh," terang Iwan.

Selain protein dan asam amino, jamur mengandung berbagai vitamin, seperti vitamin B1, B2, niasin, dan biotin, serta mineral antara lain kalium, fosfor, kalsium, natrium, magnesium, dan tembaga.

“Kandungan seratnya yang berkisar 7,4-24,6% juga menjadikan jamur sebagai salah satu bahan pangan yang dapat mendukung kebutuhan serat, dengan kandungan kalori yang relatif rendah,” tuturnya.

Salah satu jenis jamur yang banyak dikonsumsi dan dibudidayakan di Indonesia yaitu jamur tiram (Pleurotus sp.), yang mengandung protein sekitar 19-30%, karbohidrat 50-60%, asam amino, berbagai vitamin B dan vitamin C, serta sejumlah mineral seperti kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, sulfur, dan seng.

Menariknya, jamur tiram juga mengandung pleuran, senyawa gula sederhana yang disebut memiliki aktivitas antioksidan. Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional.

“Jamur tiram mengandung senyawa pleuran, senyawa gula sederhana yang mempunyai aktivitas antioksidan. Karena kandungan dan manfaat tersebut, jamur tiram dapat dikategorikan sebagai salah satu pangan fungsional,” terangnya.

Di Indonesia, jamur tiram dan jamur kuping jadi jenis jamur kayu yang banyak dibudidaya. Selain itu, juga ada jenis jamur yang diperoleh dari alam, seperti jamur bulan (Termitomyces sp.), jamur grigit (Schizophyllum commune), dan jamur pelawan (Heimioporus sp.).

Keanekaragaman hayati Indonesia membuka peluang untuk mengembangkan jamur melalui pendekatan bioprospeksi, yakni menggali potensi sumber daya hayati untuk menghasilkan produk dan manfaat baru.

Bahkan Iwan mencontohkan, jamur tiram juga pernah dimanfaatkan dalam penanganan gizi buruk balita yang dilakukan seorang bidan desa, Sunarti, penerima Srikandi Award 2012 dari Kementerian Kesehatan. 

Oleh karena itu, Indonesia dinilai perlu memperkuat penguasaan mushroom science agar potensinya dapat dikembangkan secara terarah. Kolaborasi antara peneliti, industri budidaya jamur, dan perusahaan farmasi juga perlu untuk mendorong pengembangan bioprospeksi jamur pangan.

“Keanekaragaman hayatinya yang tinggi masih menyimpan potensi pengembangan jamur pangan baik untuk bahan pangan fungsional ataupun sebagai bahan baku obat. Penguasaan ilmu tentang jamur pangan (mushroom science) diperlukan dalam hal ini,” pungkasnya.

Related News