Karet Indonesia Jangan Hanya Menjadi Bahan Mentah
Jagad Tani - Transformasi sektor pertanian, khususnya komoditas karet harus dilakukan dari hulu hingga hilir, agar tidak hanya berhenti di bahan mentah, sehingga bisa menjadi nilai tambah bagi petani dan sesuai dengan standar industri pengolahan serta produk manufaktur.
Menurut Darori Wonodipuro, anggota Komisi IV DPR RI, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karet terbesar di dunia, di mana jutaan keluarga petani menggantungkan kehidupannya pada komoditas ini, dan secara nasional masih didominasi oleh perkebunan rakyat.
Baca juga: Sadio Mane Investasikan Gaji Jadi Perkebunan Mangga
“Karet ini sebagai dasar pembuatan furnitur, namun kenyataannya banyak perkebunan karet yang masuk kawasan hutan sehingga sering menimbulkan polemik,” tuturnya saat rapat Komisi IV DPR dengan Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO), di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Selasa (6/10).
Masalahnya, lanjut Darori, ada banyak masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya disana. Sehingga perlu diatur jadwal pembahasan, serta harus ditelusuri terlebih dahulu terkait akar permasalahannya.
Pihaknya juga menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk membangkitkan kembali sektor perkaretan nasional. Salah satu agenda utamanya yaitu mendorong komoditas karet agar dapat masuk dalam skema Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
“Sekarang dana karet itu masuk gak dalam peraturan undang-undang, apabila tidak kami akan segera merekomendasikan bersama Kementerian yang ada. Sebab, apabila tidak ada pengelolaan karet akan sulit mencapai kemakmuran”, ungkapnya.
Upaya tersebut, dinilai harus diawali dengan pembenahan internal, khususnya dalam meningkatkan kualitas karet yang dihasilkan petani agar memiliki nilai tambah dan memenuhi standar industri.
"Peningkatan kualitas hasil produksi menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi tawar petani sekaligus meningkatkan daya saing industri karet Indonesia di pasar global," imbuhnya.

