• 16 October 2026

Pemanfaatan Kulit Nanas Jadi Bahan Baku Asam Laktat

uploads/news/2026/10/pemanfaatan-kulit-nanas-jadi-305135528e2a8ab.jpg

Jagad Tani - Pemanfaatan limbah kulit nanas sebagai bahan baku produksi asam laktat melalui proses fermentasi bakteri dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna meningkatkan nilai guna limbah nanas jadi produk bernilai tambah, seperti asam laktat. 

Melalui penelitian berjudul “Valorization of Pineapple Peel Waste for Lactic Acid Production Using Lactobacillus delbrueckii and Pediococcus pentosaceus” penelitian berfokus pada pemanfaatan kandungan lignoselulosa dalam kulit nanas, terutama selulosa sebagai bahan baku produksi asam laktat.

Baca juga: 6000 Ekor Benih Nilem Ditebar di Embong Giwangan

Asam laktat memiliki beragam manfaat, mulai dari bidang perawatan kulit, kesehatan tubuh, olahraga, hingga industri makanan. Selain memanfaatkan limbah, penelitian itu juga membandingkan kemampuan dua jenis bakteri, yaitu Lactobacillus delbrueckii dan Pediococcus pentosaceus dalam menghasilkan asam laktat melalui proses fermentasi. 

Penelitian tersebut dipresentasikan oleh Eka Triwahyuni yang mewakili Witta Kartika Restu dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN dalam sesi parallel session pada kegiatan The 12th International Symposium on Applied Chemistry (ISAC) yang diselenggarakan bersamaan dengan The 7th International Conference on Chemical and Material Engineering (ICCME), di Gedung B.J Habibie BRIN, Jakarta, Kamis (15/10).

“Limbah kulit nanas mengandung bahan lignoselulosa, terutama selulosa yang dapat digunakan sebagai bahan baku untuk sumber karbon terbarukan dan untuk menghasilkan produk bernilai tinggi, yaitu bioproduk seperti asam laktat,” jelas Eka. 

Dalam penelitian ini pada perlakukan awal, limbah kulit nanas diberi alkali untuk mengurangi kandungan pengotor seperti lignin. Lalu, limbah kulit nanas menjalani hidrolisis enzimatis untuk mengubah limbah kulit nanas menjadi gula yang dapat difermentasi. Gula tersebut difermentasi menggunakan kedua jenis bakteri dengan suhu 37 derajat Celcius.

Dilanjutkan bahwa perlakuan awal berperan dalam memperbaiki komposisi bahan sebelum memasuki tahap fermentasi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan kandungan selulosa dan penurunan kandungan lignin setelah proses tersebut. 

“Jadi, setelah perlakuan awal, kita dapat melihat selulosa meningkat dan lignin menurun. Perubahan material ini menjadi lebih cocok untuk digunakan dalam hidrolisis enzimatis dan kemudian difermentasi menggunakan dua strain bakteri,” paparnya. 

Penelitian ini menggunakan metode gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) untuk mengidentifikasi senyawa yang dihasilkan. Sedangkan konsentrasi asam laktat diukur menggunakan high-performance liquid chromatography (HPLC).

Berdasarkan hasil analisis GC-MS, produk fermentasi dari kedua strain bakteri menunjukkan keberadaan senyawa asam laktat dengan indeks kemiripan 99%. Adapun hasil pengukuran HPLC menunjukkan konsentrasi asam laktat meningkat seiring bertambahnya waktu fermentasi. 

“Pada fermentasi 72 jam, kita dapat melihat Lactobacillus delbrueckii dapat menghasilkan konsentrasi asam laktat tertinggi yaitu 23,89 gram per liter, sebagai perbandingan Pediococcus pentosaceus hanya menghasilkan 9,75 gram per liter,” terang Eka.

Selain mengukur konsentrasi asam laktat, penelitian ini mengevaluasi karakteristik fisikokimia produk, meliputi pH, densitas, viskositas, dan warna. Kedua produk fermentasi memiliki karakteristik yang relatif serupa, yakni pH sekitar 5, densitas sekitar 1,1, viskositas sekitar 0,8 centipoise, serta bewarna kuning. 

Walaupun asam laktat dihasilkan melalui fermentasi kedua jenis bakteri, karakteristik produk yang dihasilkan masih berbeda dari standar yang dijadikan acuan. Sehingga perlu penelitian lanjutan untuk meningkatkan kualitas produk melalui tahapan pemurnian.

“Karakteristik ini masih berbeda jika dibandingkan dengan standar. Hal ini mengindikasikan bahwa langkah pemurnian masih diperlukan dalam penelitian selanjutnya,” imbuhnya.

Limbah kulit nanas sebagai alternatif bahan baku untuk produksi asam laktat berpotensi untuk dimanfaatkan. Peningkatan proses fermentasi dan permunian lebih lanjut perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk agar limbah kulit nanas bisa dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. 

Related News