• 19 October 2026

Efesiensi Pakan 84,03%, Inilah Keunggulan Metode Bioflok

uploads/news/2026/10/efesiensi-pakan-84-03-inilah-467589e02c67072.jpeg

Jagad Tani - Peningkatan produksi ikan nila (Oreochromis niloticus) tidak cukup jika hanya menambah jumlah benih atau memperluas kolam. Tentunya pemilihan teknologi budidaya, efisiensi pakan, dan pengelolaan kualitas air jadi faktor penentu keberhasilan usaha.

Hal tersebut dibuktikan dalam riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menjelaskan bahwa sistem bioflok memiliki keunggulan soal efisiensi pemanfaatan pakan, meski kolam intensif dan bioflok sama-sama menunjukkan produktivitas biomassa yang tinggi.

Baca juga: Salak Sari Intan, Unggulan Lokal Kabupaten Bintan

Hal tersebut dipaparkan Peneliti Pusat Riset Budidaya Air Tawar (PRBAT), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Estu Nugroho, pada Rabu (14/10) lalu.

Melalui paparannya yang berjudul “Evaluasi Produktivitas dan Nilai Ekonomi dalam Budidaya Ikan Nila: Analisis Komparatif Sistem Kolam Intensif, Keramba Jaring Apung, dan Bioflok”, Estu membandingkan kinerja tiga sistem budidaya ikan nila.

Dalam kajian tersebut, Estu menilai sejumlah indikator, mulai dari tingkat kelangsungan hidup ikan (survival rate), efisiensi pakan, pertumbuhan harian, produktivitas biomassa, hingga aspek ekonomi.

“Indikator ekonomi yang dianalisis mencakup biaya produksi, rasio penerimaan terhadap biaya (revenue-cost ratio atau R/C ratio), tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI), titik impas (break-even point/BEP), dan periode pengembalian modal,” jelasnya.

Pendekatan berbasis data produksi komersial dinilai penting untuk gambaran kondisi budidaya secara nyata. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami keterkaitan antara karakteristik kolam, praktik pengelolaan, dan kinerja biologis ikan dalam kegiatan produksi.

“Hasil kajian terhadap unit produksi komersial menunjukkan bahwa sistem kolam intensif dan bioflok memiliki keunggulan dalam produktivitas biomassa, sementara bioflok lebih unggul dari sisi efisiensi pakan dan indikator ekonomi,” ungkap Estu.

Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan pada sistem kolam intensif dan bioflok lebih tinggi dibandingkan keramba jaring apung. Adapun bioflok mencatat nilai efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 84,03%.

Meski demikian, setiap sistem punya karakteristik dan kebutuhan pengelolaan yang berbeda. Produktivitas tinggi pada sistem kolam intensif dan bioflok perlu didukung pengelolaan oksigen dan limbah. Sementara keramba jaring apung bergantung pada kondisi perairan eksternal dan daya dukung lingkungan.

Berdasarkan hasil kajian tersebut, Estu menyarankan, kolam intensif dapat menjadi pilihan bagi pembudidaya yang berorientasi pada produksi biomassa tinggi dan operasional berskala besar.

Sedangkan sistem bioflok berpotensi jadi alternatif bagi pembudidaya yang mengutamakan efisiensi pakan dan kinerja ekonomi. Adapun keramba jaring apung, kata Estu, menawarkan operasional yang relatif sederhana, meskipun produktivitas dan profitabilitasnya dalam kajian ini lebih rendah dibandingkan dua sistem lainnya.

“Kajian ini menegaskan pentingnya riset berbasis data produksi komersial sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan di sektor akuakultur. Pemilihan teknologi budidaya perlu disesuaikan dengan tujuan produksi, ketersediaan modal, kapasitas pengelolaan, serta kondisi lingkungan agar kegiatan budidaya ikan nila dapat berlangsung secara produktif dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Peneliti PRBAT BRIN Huria Marnis, menyampaikan bahwa pengembangan budidaya ikan nila menuju skala industri butuh dukungan benih unggul, teknologi budidaya yang efisien, manajemen produksi yang baik, serta inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.

Menurut Huria, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah menjembatani kesenjangan antara hasil riset dan penerapannya pada skala produksi komersial.

Keberhasilan penelitian tidak cukup diukur dari jumlah publikasi atau teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari sejauh mana hasil tersebut dapat dimanfaatkan dan memberikan dampak nyata bagi pembudidaya maupun dunia industri.

Oleh karena itu, dirinya menegaskan bahwa kolaborasi antara peneliti, akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi penting untuk memperkuat pemanfaatan hasil riset di sektor akuakultur.

“PRBAT BRIN akan terus berkomitmen mendorong riset dan inovasi yang aplikatif, berkelanjutan, serta mampu menjawab kebutuhan nyata sektor akuakultur,” tukas Huria.

 

Related News