Bekasi Utara Punya Harta Karun Ekonomi Pesisir
Jagad Tani - Untuk mendukung perekonomian masyarakat wilayah pesisir utara Kabupaten Bekasi, ada banyak potensi lokal yang dapat dikembangkan, mulai dari sektor perikanan tangkap, pelestarian ekosistem mangrove, hingga pengembangan wisata berbasis alam.
Menurut Ketua Tim Pemberdayaan Nelayan Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi, Tasim Suryadi, pemanfaatan potensi tersebut perlu direncanakan secara terintegrasi dengan melibatkan masyarakat dan perangkat daerah sesuai bidang tugasnya.
Baca juga: Lima Kelompok Usaha Perhutanan Sosial Bernilai Ekonomi
Selain itu, pengembangan kawasan pesisir dinilai Tasim juga perlu memperhatikan aktivitas nelayan serta peluang ekonomi lain yang dapat tumbuh dari sumber daya alam setempat.
“Potensi wilayah pesisir cukup beragam. Selain perikanan tangkap, ada ekosistem mangrove dan peluang wisata yang dapat dikembangkan. Semua ini perlu dilihat sebagai satu kesatuan agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat pesisir,” ujar Tasim dalam keterangannya, dikutip Jumat (30/10).
Dilanjutkan bahwa, untuk mendukung kegiatan perikanan tangkap, sarana pendukung yang diperlukan misalnya seperti cold storage, ketersediaan bahan bakar, dan optimalisasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Sehingga aktivitas melaut, penanganan hasil tangkapan, serta proses pemasaran ikan bisa semakin lancar.
“Cold storage dapat membantu menjaga kualitas ikan, sedangkan bahan bakar menjadi kebutuhan utama nelayan untuk melaut. TPI juga memiliki fungsi penting dalam mendukung pemasaran hasil tangkapan dan perlu dimanfaatkan secara optimal sesuai kewenangannya,” ungkapnya.
Di samping perikanan, kawasan mangrove berjasa dalam mendukung kehidupan masyarakat pesisir, karena menjadi habitat dan sumber makanan bagi berbagai biota, seperti ikan, udang, dan kepiting, serta membantu menghambat abrasi pantai dan mengurangi risiko intrusi air laut ke daratan.
“Ekosistem mangrove bukan hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga memiliki manfaat bagi perikanan dan masyarakat. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga agar fungsi ekologisnya tetap berjalan dan dapat mendukung kehidupan masyarakat pesisir,” sambungnya.
Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui wisata berbasis alam, seperti wisata pantai, susur sungai dan kawasan mangrove, serta wisata memancing.
Adapun untuk pengembangan kegiatan wisata, dinilai Tasim, perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan, daya dukung kawasan, dan upaya menjaga kelestarian sumber daya pesisir.
“Wisata pesisir bisa menjadi peluang untuk memperluas kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, pengembangannya perlu direncanakan dengan baik, termasuk memperhatikan kelestarian mangrove dan lingkungan agar potensi alamnya tetap terjaga,” paparnya.
Kegiatan wisata tersebut berpeluang membuka ruang bagi UMKM lokal untuk berkembang melalui usaha kuliner, produk olahan hasil perikanan, penjualan produk khas daerah, serta jasa pendukung wisata.
Sebab keterlibatan masyarakat menjadi salah satu aspek penting agar pengembangan destinasi tidak hanya berfokus pada kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan peluang usaha bagi warga sekitar.
Pengembangan perikanan, pelestarian mangrove, dan ekowisata, menurutnya, membutuhkan koordinasi lintas perangkat daerah, sebab pengelolaan wilayah pesisir berkaitan dengan berbagai bidang, termasuk perikanan, pariwisata, lingkungan hidup, kehutanan, transportasi laut, dan sektor lain sesuai kewenangannya.
“Perlu ada koordinasi antarperangkat daerah melalui perencanaan yang terpadu. Permendagri Nomor 33 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengembangan Ekowisata di Daerah dapat menjadi salah satu rujukan dalam melihat peran berbagai pihak,” pungkasnya.

