Warisan Bawah Laut Jadi Kunci Ekonomi Biru
Jagad Tani - Perlindungan warisan maritim bawah laut Indonesia berfungsi untuk kelestarian ekosistem yang bakal berkontribusi pada pengurangan dampak perubahan iklim, serta kesejahteraan masyarakat pesisir.
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dalam siaran resmi di Jakarta, dikutip Selasa (3/11) menilai bahwa kekayaan laut Indonesia bukan hanya sebatas sumber daya alamnya saja.
Baca juga: Indonesia Berpotensi Kembangkan Garam Premium Bernilai Tinggi
"Kekayaan laut kita tidak sebatas sumber daya alam, termasuk juga warisan-warisan bawah laut yang selama ini menjadi rumah macam-macam biota. Di beberapa daerah bahkan, warisan bawah laut bahkan dikelola dengan baik menjadi destinasi wisata,” ungkapnya
Untuk itu, Trenggono menilai agar pelaksanaan The 6th Asia-Pacific Conference on Maritime and Underwater Cultural Heritage (APCONF6) yang berlangsung di Denpasar, Bali, pada 26–31 Oktober 2026 harus didukung.
Mengusung tema Traditions and Trajectories: Maritime Heritage and Blue Economies in Asia-Pacific”, para pesertanya terdiri dari peneliti, akademisi, pemerintah, komunitas pesisir, masyarakat adat, organisasi internasional, pelaku usaha, serta investor.
“Forum ini harsus benar-benar menjadi ruang pertukaran pengetahuan, penguatan kolaborasi, dan dialog kebijakan untuk menghubungkan pelestarian warisan maritim dengan pembangunan ekonomi biru,” ujar Trenggono.
Sementara itu, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Irwan Meilano mengatakan, Situs USAT Liberty yakni bangkai kapal kargo milik Angkatan Darat Amerika Serikat di dasar laut Tulamben, Bali, menjadi contoh bagaimana warisan bawah air dapat mendukung habitat biota sekaligus wisata bahari.
“Dalam menghadapi perubahan iklim, pencemaran, dan kerusakan habitat, penguatan riset, pemetaan, serta pemantauan situs dengan menempatkan masyarakat pesisir sebagai pelaku utama pelestarian merupakan kunci penting,” terangnya.
Kearifan lokal seperti sasi, Panglima Laot, dan awig-awig, lanjutnya, menjadi contoh landasan pengelolaan laut yang harus terus dirawat. Pihak KKP dalam menjaga ekosistem laut mengedepankan kebijakan ekonomi biru yang memadukan pendekatan berbasis lingkungan dan ekonomi.
Forum tersebut menandai tonggak sejarah peringatan 15 tahun APCONF atau disebut sebagai Crystal Anniversary. APCONF bermula di Manila, Filipina, pada 2011, dan pada penyelenggaraan kali ini dihadirkan pula para ketua terdahulu dan para pendiri dari Manila, Hawaii, Hong Kong, Taiwan, Korea, dan Indonesia.

