• 3 November 2026

Produksi Benih Biosalin Bersertifikat Pekalongan Disiapkan

uploads/news/2026/11/produksi-benih-biosalin-bersertifikat-84541d1d86606e8.jpg

Jagad Tani - Untuk mempermudah petani memperoleh benih padi yang mampu beradaptasi dengan kondisi lahan terdampak salinitas atau kadar garam tinggi di Kota Pekalongan, produsen benih padi biosalin bersertifikat mulai dipersiapkan.

Sertifikat tersebut akan diterbitkan setelah pengajuan kepada Balai Sertifikasi dan Pengawasan Benih (BPSB) Jawa Tengah melalui tahapan administrasi, pemeriksaan awal, hingga survei lapangan.

Baca juga: Indonesia Berpotensi Kembangkan Garam Premium Bernilai Tinggi

Menurut Penyuluh Pertanian Pekalongan Utara, Lazim Sofi, legalitas menjadi langkah penting untuk mengembangkan usaha perbenihan biosalin sekaligus memenuhi kebutuhan petani di Kota Pekalongan dan daerah sekitarnya.

"Selama ini, ketika membutuhkan benih biosalin, petani harus membeli dari luar daerah seperti Bogor atau Banten. Harapannya, ke depan kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dari Kota Pekalongan sendiri,” jelasnya Selasa (3/11).

Pada musim tanam mendatang, produksi benih ditargetkan mencapai 1–2 ton. Benih sumber akan diperoleh dari Balai Besar Biogen di Bogor menggunakan benih berlabel kuning, kemudian dikembangkan menjadi benih berlabel biru sesuai tahapan sertifikasi perbenihan.

Melalui kapasitas tersebut, produksi diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan petani di Kota Pekalongan, sekaligus menyediakan pasokan bagi daerah sekitar seperti Kabupaten Pekalongan, Batang, Pemalang, hingga Tegal.

Disebutkan oleh Lazim, sebelumnya permintaan benih dari sejumlah daerah sudah cukup tinggi. Bahkan, hasil produksi yang belum bersertifikat telah dibeli petani dari Wonokerto, Gringsing, Tegal, hingga luar daerah seperti Purworejo dan Samarinda.

Namun, lanjutnya, pada saat itu jumlah produk belum dapat dipasarkan sebagai benih karena belum memiliki legalitas perbenihan.

"Kalau musim depan, insyaallah sudah resmi menjadi benih biosalin bersertifikat. Jadi, kami bisa memasarkannya secara terbuka sebagai benih, bukan lagi gabah," sambungnya.

Adapun pengembangan benih biosalin juga diarahkan untuk mengoptimalkan kembali lahan pertanian yang terdampak intrusi air laut. Varietas ini dinilai sesuai untuk lahan dengan tingkat salinitas tertentu sehingga berpotensi menjadi solusi bagi petani yang selama ini kesulitan mengolah lahannya.

Meski demikian, tantangan pertanian di wilayah Pekalongan Utara masih berkaitan dengan infrastruktur pengairan. Sebagai wilayah yang berada di ujung jaringan irigasi, pasokan air tawar dari Bendung Kerompyang perlu diperkuat, terutama saat musim kemarau.

Sementara itu, persoalan masuknya air asin ke lahan pertanian disebut telah lebih terkendali. Ke depan, pengembangan perbenihan biosalin di Kota Pekalongan diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan benih petani lokal, tapi juga jadi pemasok benih biosalin bersertifikat bagi daerah lain yang menghadapi persoalan lahan pertanian akibat salinitas.

Related News