• 4 November 2026

Indonesia-Tiongkok Perkuat Kerjasama Sektor Pertanian

uploads/news/2026/11/indonesia-tiongkok-perkuat-kerjasama-sektor-440662decac846d.jpg

Jagad Tani - Menteri Pertanian Republik Rakyat Tiongkok (RRT) Zhang Zhu menyepakati penguatan kerja sama dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, dalam peningkatan produksi, transfer teknologi, dan pengembangan komoditas strategis.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang perdagangan dan investasi yang lebih luas bagi kedua negara, dalam pertemuan bilateral di Beijing, Senin (2/11).

Baca juga: Indonesia Berpotensi Kembangkan Garam Premium Bernilai Tinggi

Zhang menilai hubungan kerja sama pertanian Tiongkok dan Indonesia telah menunjukkan perkembangan positif sejak 2019, dan menyoroti besarnya hubungan perdagangan kedua negara yang menjadi modal penting untuk memperluas kemitraan di sektor pertanian.

Menurut Zhang, nilai perdagangan ekspor-impor Tiongkok dan Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$125 miliar. Angka tersebut, setara dengan 25% dari perdagangan Tiongkok ke negara-negara di Asia Tenggara, serta menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir kelapa sawit dunia.

”Capaian dan potensi tersebut membuka ruang lebih besar bagi Tiongkok dan Indonesia untuk memperdalam kerja sama, termasuk melalui pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, dan penguatan perdagangan komoditas pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Amran menegaskan bila kerja sama dengan Tiongkok harus menghasilkan manfaat bagi sektor pertanian Indonesia. Kemitraan tidak cukup hanya menjaga kelancaran perdagangan, tapi juga perlu memperkuat kemampuan produksi nasional, mempercepat modernisasi pertanian, dan meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan.

“Kita ingin kerja sama ini diperkuat. Untuk komoditas yang kita butuhkan, seperti bawang putih dan kedelai, kita harapkan pasokannya semakin baik. Di sisi lain, kita juga ingin memperbesar ekspor komoditas unggulan Indonesia ke Tiongkok,” terang Amran.

Salah satu agenda yang diusulkan yakni pengembangan bawang putih, mulai dari penyediaan benih, teknologi budidaya, alat dan mesin pertanian, hingga pembangunan klaster produksi di Indonesia, yang ditujukan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

Saat ini, sekitar 90% kebutuhan bawang putih Indonesia dipenuhi dari Tiongkok. Oleh karena itu, hubungan kedua negara terus didorong untuk dikembangkan menjadi kemitraan yang juga mendukung peningkatan produksi bawang putih di Indonesia.

“Kita ingin kerja sama hulu sampai hilir untuk bawang putih, mulai dari benih, teknologi, alat dan mesin pertanian, hingga membangun klaster di Indonesia,” sambung Amran.

Selain bawang putih, pengembangan klaster komoditas unggulan Indonesia, khususnya kelapa, kopi, dan durian.  Sehingga dapat memperluas akses pasar, menjaga kualitas produk, dan meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia.

Di bidang investasi, Amran menawarkan peluang bagi perusahaan Tiongkok untuk mengembangkan industri pengolahan di kawasan khusus. Sektor yang ditawarkan berupa industri kelapa dan produk turunannya, rumput laut, serta industri vaksin untuk pertanian.

Dilanjutkan Amran bahwa kesiapan lahan, legalitas, dan dukungan insentif di kawasan tersebut diharapkan dapat memudahkan investor dalam merealisasikan pembangunan industri di Indonesia.

“Lahannya sudah siap, legalitasnya juga disiapkan. Investor tinggal datang. Kita ingin membangun industri pengolahan, seperti pabrik kelapa dan rumput laut, sehingga sumber daya yang kita miliki bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” tuturnya.

Amran juga mengusulkan kerja sama perdagangan produk susu, mengingat kebutuhan susu Indonesia sekitar 4 juta ton per tahun. Ia juga mengusulkan penelitian gandum sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan kebutuhan dalam negeri yang masih bergantung pada impor.

Kedua menteri sepakat bahwa penguatan komunikasi dan pembahasan teknis diperlukan untuk menindaklanjuti berbagai peluang tersebut. Kemitraan Indonesia-Tiongkok diharapkan bisa memperkuat perdagangan, meningkatkan kapasitas produksi nasional lewat transfer teknologi, penelitian, investasi, dan pengembangan industri hilir.

 

Related News