• 6 November 2026

Atasi Gejolak Harga Pakan Ternak, Disiapkan Sistem Baru

uploads/news/2026/11/atasi-gejolak-harga-pakan-24544ae9d2084d0.jpg

Jagad Tani - Sistem baru tengah disiapkan untuk menjaga ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan demi melindungi peternak dari gejolak harga melalui integrasi petani jagung, peternak, koperasi, dan Bulog, hasil panen yang berlebih akan diserap dan disimpan sebagai cadangan. 

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menilai, skema tersebut jadi bagian dari pembangunan ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir. Sekaligus tindak lanjut dari aspirasi perwakilan peternak berbagai daerah yang sebelumnya datang ke Jakarta untuk menyampaikan persoalan peternakan.

Baca juga: Indonesia Berpotensi Kembangkan Garam Premium Bernilai Tinggi

“Kita hari ini tunaikan janji. Setelah peternak seluruh Indonesia, perwakilannya ada seribu lebih, datang ke Jakarta menemui kami, kita rencanakan ke depan membangun ekosistem peternak. Kita mulai dari hulu sampai hilir,” ujar Amran saat kunjungan kerja di Blitar, Jawa Timur, Kamis (5/11).

Melalui sistem itu, petani jagung akan terhubung dengan koperasi dan peternak sebagai bagian dari rantai pasok. Ketika produksi jagung melimpah, hasil panen yang berlebih akan dibeli Bulog dan disimpan melalui mekanisme resi gudang.

Adapun untuk stok tersebut, nantinya bisa dimanfaatkan kembali oleh peternak ketika pasokan mulai terbatas, terutama saat memasuki masa paceklik pada periode September hingga November. 

“Ini tanam jagung, kemudian offtaker-nya peternak. Kalau berlebih jagungnya dibeli oleh Bulog, menjadi resi gudang. Begitu masa paceklik, September, Oktober, November, itu boleh diambil kembali oleh peternak yang mendampingi dari Bulog. Jadi nanti ini suatu ekosistem, ini solusi permanen,” sambungnya.

Demi mempercepat program, Amran menyampaikan bakal mengalihkan anggaran sekitar Rp3,7 triliun untuk mendukung peternak dan petani jagung. Pengalihan itu dilakukan dengan mengurangi sejumlah belanja yang bukan prioritas mendesak, seperti seminar di hotel, kunjungan, perjalanan dinas, dan kegiatan perkantoran.

“Kami alihkan anggaran kurang lebih Rp3,7 triliun semuanya, untuk peternak dan juga petani jagung. Ini demi petani-peternak Indonesia,” jelasnya.

Dilanjutkan jika, perlindungan terhadap petani dan peternak  dinilai penting karena sektor tersebut jadi sumber penghidupan bagi sekitar 160 juta masyarakat Indonesia. Sehingga mampu memberi dampak nyata bagi keberlangsungan usaha dan peningkatan kesejahteraan.

Persoalan tata niaga telur, ketika harga di tingkat peternak mengalami tekanan, sementara harga di tingkat konsumen masih tinggi juga disoroti, agar peternak memperoleh harga yang sesuai dengan ketentuan dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menindaklanjuti praktik pembelian yang tidak sesuai.

“Jangan ganggu petani-peternak kita. Ini bayangkan, ini telur harga di peternak, jatuh. Harga di konsumen, tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Anjuk Ladang Makmur Kabupaten Nganjuk, Zainuddin, menyampaikan bila bantuan jagung SPHP tahap pertama dan kedua telah membantu peternak menghadapi tingginya harga bahan baku pakan di pasaran. 

Zainuddin juga menyebutkan jika saat ini harga jagung di pasaran telah mencapai Rp7.800 per kilogram, sedangkan jagung SPHP yang diterima peternak sebesar Rp5.500 per kilogram.

“Harga pakan pabrikan selalu naik dan naik terus tanpa ada kompromi. Jagung di luaran hari ini sudah tembus Rp7.800 per kilogram, dengan jagung SPHP hanya Rp5.500 per kilogram. Ini sangat membantu kami selaku peternak,” ucapnya.

Melalui dukungan pasokan jagung, ia berharap dapat terus dilanjutkan, termasuk penambahan kuota pada tahun berikutnya. Selain itu, kenaikan harga pakan dapat diimbangi dengan harga jual telur yang memadai sehingga usaha peternak tetap berkelanjutan.

“Harapan kami tentu yang pertama, karena harga pakan pabrikan selalu naik, kalaupun naik diimbangi dengan harga telur juga diangkat. Tadi sudah disampaikan arahan Bapak Menteri bahwa harga telur tidak boleh di bawah ketentuan, yaitu Rp24.000 per kilogram,” tukasnya.

 

Related News