• 8 November 2026

Ngopi Sepuluh Ewu Kemiren Rawat Tradisi Suku Using

uploads/news/2026/11/ngopi-sepuluh-ewu-kemiren-343974403cb0e91.jpg

Jagad Tani– Ada tiga kata yang menjadi filosofi masyarakat Suku Using dalam menyambut tamu, yakni suguh, gupuh, lungguh. Kearifan lokal ini dihidupkan melalui Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Sabtu malam (7/11).

Sejak pertama digelar pada 2014, dan memasuki tahun ke-13, festival ini jadi salah satu agenda budaya yang dinanti wisatawan. Ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara, memadati jalan utama desa dan disambut hangat oleh warga di halaman setiap rumah.

Baca juga: Revitalisasi Tambak Pantura Bekasi Masuki Tahap Verifikasi

Ribuan cangkir kopi disajikan gratis. Pengunjung juga bisa menikmati aneka kudapan tradisional Using, seperti kucur, tape ketan berbungkus daun kemiri, hingga pisang goreng. Tentunya keramahan warga Using Kemiren ini menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan asing.

Menurut, Jay, wisatawan asal Kanada, ia merasa senang dengan sambutan masyarakat Kemiren dan cita rasa kopi yang disajikan. “Kami disambut sangat ramah, masyarakat sini memberikan secangkir kopi gratis dan rasanya sangat enak,” ungkap Jay.

Hal serupa dirasakan Sarah, wisatawan asal Spanyol, yang antusias karena bisa berinteraksi langsung dengan warga. Sementara Kazuki Yoshida, wisatawan asal Jepang, mengaku terkesan dengan beragam kuliner Banyuwangi yang dicicipinya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, tradisi minum kopi masyarakat Using bukan sekadar kebiasaan, tapi simbol persaudaraan, dan tercermin dalam semboyan Sak Corot Dadi Sakduluran, yang artinya sekali seduh menjadi saudara.

“Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong. Masyarakat iklas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan,” jelasnya.

Ipuk menilai masyarakat Kemiren konsisten dalam menjaga tradisi leluhur hingga desa tersebut dikenal luas sebagai desa adat wisata. Pihaknya, dinilai, akan terus mendukung pelestarian budaya dan pengembangan di Desa Kemiren.

Adapun Kepala Desa Kemiren Muhammad Arifin menjelaskan, Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar menyajikan ribuan cangkir kopi, melainkan menggambarkan karakter masyarakat Osing yang menjunjung tinggi keramahan dalam menerima tamu.

“Kami diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu,” ungkap Arifin.

Dilanjutkan bahwa, suguh berarti memberikan suguhan atau hidangan kepada tamu, meski hanya berupa minuman. Gupuh bermakna antusias dan sigap menyambut kedatangan tamu, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat duduk yang layak agar tamu merasa nyaman.

“Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan wujud kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu. Kearifan ini perlu terus kita rawat dan wariskan kepada anak cucu,” tukasnya.

Related News