• 27 May 2022

Menilik Sejarah Taman Safari Indonesia

SHARE SOSMED

"Awalnya itu adalah sirkus yang dulu kalau orang kenal oriental sirkus itu tahun 80-an lalu sejak sirkus itu sudah tidak bisa menampilkan satwa lagi jadi hanya atraksi manusia saja.."

Sebagai pelopor dalam taman konservasi dan rekreasi, Taman Safari Indonesia telah dikenal sebagai lembaga konservasi terbaik di Indonesia dan juga salah satu taman dengan tema alam yang paling populer di Indonesia. Meskipun berbeda konsep dengan kebun binatang namun TSI masih menjadi kunjungan wisata teramai dan terpopuler bagi masyarakat Indonesia khususnya wisata keluarga.

Taman Safari Indonesia dibangun pada tahun 1980 pada sebuah perkebunan kina yang sudah tidak produktif lagi seluas 50 hektare. Taman ini ditetapkan sebagai Objek Wisata Nasional oleh Soesilo Soedarman, Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi pada masa itu dan diresmikan menjadi Pusat Penangkaran Satwa Langka di Indonesia oleh Hasyrul Harahap, Menteri Kehutanan pada masa itu, pada tanggal 16 Maret 1990.

Baca juga: Ini Bedanya Macan Tutul dengan Jaguar

Kini, luas Taman Safari telah berkembang menjadi 168 hektare dan dilengkapi dengan berbagai sarana edukasi dan rekreasi serta mengadakan safari malam pada saat akhir pekan dan libur panjang. Emeraldo Parengkuan General Manager Taman Safari Indonesia menceritakan sejarah beagaimana TSI berdiri.

“Jadi awalnya itu adalah sirkus yang dulu kalau orang kenal oriental sirkus itu tahun 80-an lalu sejak sirkus itu sudah tidak bisa menampilkan satwa lagi jadi hanya atraksi manusia saja, satwa tidak diikut sertakan. Nah, satwa-satwa itu kemudian di tempatkan di sebuah lahan di hotel Cisarua untuk ditampung. Satwanya bermacam-macam ya ada yang beli, ada yang sumbangan dari pemerintah juga," ujar pria yang akrab disapa Aldo itu.

Aldo menceritakan, muncul lah ide untuk membuat konservasi dengan lahan yang sebelumnya merupakan kebun teh yang sudah tidak aktif. "Karena konsepnya mau konservasi pemilik waktu itu merencakan menanam pohon-pohon supaya terlihat mirip dengan habitat aslinya. Jadi diresmikan kurang lebih 30 tahun lalu oleh lembaga konservasi dan di tanda tangani oleh menteri pariwisata dan Kementerian lingkungan hidup dan kehutanan pada masa itu,” tuturnya.

Baca juga: Penyakit Katarak Pada Kanguru Abu-Abu

Lebih lanjut Aldo bercerita, dahulu pemilik TSI memang mempunyai keahlian dalam beratrasi sirkus terutama berakrobat. “Jadi awal sirkus itu mungkin tahun 70-an itu banyak pergolakan kan di daerah, nah dulu pendiri TSI itu memang punya keahlian akrobat lalu kelebihan mengajar satwa. Beliau itu masih berasal dari keluarga Hadi Manansang,” imbuhnya.

Saat ini TSI sudah banyak melakukan upaya untuk melestarikan satwa-satwa khususnya satwa endemik Indonesia. “Sudah banyak yang kita lakukan demi menjaga kelestarian satwa yaitu kita salah satu penggagas klinik gajah yang ada di Way Kambas saat itu ada yang mendengar bahwa gajah masuk ke area manusia padahal sih sebaliknya. Nah TSI lah yang pada saat itu membantu pemerintah dengan cara kita menggunakan gajah dari Thailand untuk menghalau, karena pada saat itu gajah-gajah yang terlatih di Indonesia sangat terbatas," jelas Aldo.

"Kita juga terlibat dalam pelestarian badak di ujung kulon, badak itu harus di habitatya. Dan kalau sekarang ini kita punya program dua, yaitu owa jawa dan elang jawa saat ini kita lagi lakukan pengembangbiakan. sudah berjalan dari tahun lalu plus kita lagi membantu di mentawai untuk satwa-satwa disana,” tutupnya.

Baca juga: Detik-detik Lahirnya Bayi Gajah, Covid

Related News