• 7 July 2022

Ecoprint, Dari Daun Jadi Cuan

Bisnis fashion kini masih banyak diminati masyarakat, trend fashion yang selalu berubah-ubah menjadikan fashion tidak ada matinya. Namun, bisnis fashion masih menggunakan bahan textile yang mengandung bahan kimia yang dapat merusak lingkungan. Dengan itu untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan aman ada baiknya kita harus merubah gaya hidup dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan seperti salah satunya ecoprint.

 

Ecoprint yang berasalah dari kata eco atau ekosistem yang artinya lingkungan, dan print yang artinya cetak. Ecoprint merupakan Teknik mencetak atau menciptakan suatu produk dengan bahan yang alami. Teknik ini bukan lagi merupakan langkah baru di dunia industry eknomi kreatif. Namun dengan adanya ecoprint bisa meminimalisir limbah-limbah pakaian, dan limbah kimia yang dapat merusak lingkungan.

 Baca Juga : Sulap Sampah Organik Jadi Eco-Enzym

Yusriani, wanita berusia 33 tahun mulai membangun usaha ecoprint yang memiliki minat dan bakat dibidang seni, yaitu melukis. Memiliki mini gallery dirumahnya yang bernama Yumiecoprint bertepat di jalan Pelda Sugiyono, Triadi, Sleman, Yogyakarta.

 

“Saya memang punya minat dan bakat diseni, saya seneng lukis dan gambar jad terhubung kesini ya, jadi sebelum saya ngeco biasanya saya gambar-gambar dulu buat motif baru. Jadi saya berkarya ecoprint ini bukan sekedar bisnis, tapi juga mencurahkan seni itu jadi kepuasan tersendiri.” Tutur Yusriani

 

Dalam proses pembuatan ecoprint yusriani menggunakan daun-daun yang memiliki zat tannin yang kuat seperti daun jati, daun lanang, daun kaya afrika, dan beberapa jenis rumput seperti biden yang biasa digunakan sebagai pakan ternak. Untuk mendapatkan daun-daunnya juga mudah, hanya menggunakan daun yang berada di sekitar lingkungan dan perkebunan daerah setempat.

 

Baca Juga : Cara Simpel Memanfaatkan Sampah Organik

 

Namun diawal bisnisnya baru dimulai pada januari 2020, Yusriani mengalami kendala akibat pandemi yang terjadi, usahanya yang baru dimulai terpaksa untuk vakum terlebih dahulu, banyak juga para pembatik yang gulung tingkar dan yang paling utama demi kesehatan semua. Tidak hanya sampai disitu saja, Yusriani kembali bangkit dan mulai menyemangati dirinya untuk kembali berkarya serta merubah stikma masyarakat yang menganggap ecoprint merupakan motif yang tidak jelas.

 

“Memang dari 2020 itu saya merasa langkahnya melambat sejak pandemi merasa down juga, tapi sekarang mulai menyemangati diri untuk berkarya lagi. Karena juga saya mau merubah stikma kalau ecoprint bukan motif yang tidak jelas, tapi ini loh saya buat ecoprint dengan motif batik, tidak diletakkan begitu saja, tapi saya tata saya rangkai. Jadi orang-orang sudah tau ciri khas yumi ini daun-daunnya dibuat motif batik, karena saya mau sebisa mungkin saya bisa menyenangkan orang-orang yang melihatnya, jadi saya juga seneng.” Tutup Yusriani

Related News