Hipere hingga Keladi, Panganan Lokal Andalan Wamena
Jagad Tani - Kondisi geografis Provinsi Papua Pegunungan yang berada di dataran tinggi membuat pola konsumsi pangan masyarakatnya berbeda dibanding wilayah lain di Indonesia. Suhu yang relatif dingin, hampir menyerupai Kota Batu di Jawa Timur, turut memengaruhi jenis pangan lokal yang dikembangkan dan dikonsumsi masyarakat.
Andian Sumartha, warga Wamena, menyebut bahwa di delapan kabupaten Papua Pegunungan masing-masing memiliki ciri khas pangan lokal. Khusus di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pangan utama masyarakat sejak lama adalah umbi-umbian, terutama hipere (ubi jalar) dan keladi.
Baca juga: Kopi Wamena, Jawara Arabika dari Lembah Baliem
“Hipere sama keladi itu yang paling populer. Hampir di setiap honai atau rumah warga pasti mereka tanam, karena itu makanan lokal,” ujar Andian saat dihubungi oleh tim Jagad Tani via telepon Selasa siang (13/01).
Ia menjelaskan, di wilayah perkotaan seperti Kota Wamena, sebagian masyarakat kini telah beralih mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok. Namun, di distrik-distrik pinggiran seperti Distrik Kurulu dan wilayah pelosok lainnya, umbi-umbian masih menjadi konsumsi utama masyarakat sehari-hari.
Menariknya, masyarakat dari berbagai distrik tersebut justru kerap membawa hasil kebun berupa hipere dan keladi ke kota untuk dijual. Dari hasil penjualan itu, mereka kemudian membeli beras untuk dikonsumsi.
"Nasi itu di sini masuk kategori makanan kalangan tertentu, makanya ketika teman-teman dari Jawa atau dari luar kota ya lihat. Khususnya kami yang misalnya di Wamena ini makan di luar sana ih kok nasinya banyak sekali, padahal lauknya sedikit makanya porsinya lebih tinggi, ya karena itu bukan makanan lokalnya. Kalau makan hipere, satu atau dua saja sudah kenyang,” jelas pria yang juga alumnus dari Universitas Muhammadiyah Malang ini.
Adapun untuk harga hipere di pasar-pasar yang ada di Wamena seperti Pasar Jibama, Pasar Wamena, Pasar Sinakma, Pasar Potikelek, dan Pasar Wouma, menurut bapak dari dua anak ini cukup bervariasi. Mulai dari ukuran kecil seharga Rp50.000 per tumpuk (berisi 5-7 hipere), hingga ukuran besar seharga Rp100.000 per tumpuk (berisi 2-3 hipere).
Dari sisi produksi, sektor pertanian di Jayawijaya kembali menggeliat seiring perhatian pemerintah daerah. Andian menyebutkan, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) mulai disalurkan, sejalan dengan fokus Bupati Jayawijaya yang baru, Athenius Murip, pada penguatan sektor pertanian.
“Sekarang sektor pertanian lagi ramai. Dulu lebih ke pembangunan fisik, sekarang mulai kelihatan bantuan alat, bibit, dan lainnya,” ujarnya.
Kesuburan tanah di Wamena menjadi keunggulan utama. Hampir semua tanaman pangan dapat tumbuh dengan baik tanpa pupuk kimia.
“Tanahnya hitam, subur sekali. Tanam apa saja tumbuh. Tidak pakai pupuk. Beda dengan wilayah Papua lainnya seperti Jayapura yang sudah banyak pakai pupuk,” kata Andian.
Dalam praktik adat masyarakat suku Dani, terdapat pembagian peran yang tegas dalam pengelolaan kebun. Laki-laki bertugas membuka lahan, sementara perempuan sepenuhnya mengelola kebun dan hasil panen.
Baca juga: Bakpao Telo, Olahan Ubi Jalar Kabupaten Malang
“Kalau sudah buka kebun, laki-laki tidak boleh ikut campur. Yang kelola semuanya ibu-ibu,” tuturnya.
Selain mencukupi kebutuhan lokal, hasil pertanian dari Papua Pegunungan juga dikirim ke Provinsi Papua, khususnya Jayapura. Namun, keterbatasan akses transportasi membuat biaya distribusi sangat tinggi.
“Kalau lewat darat bisa dua sampai tiga malam, bahkan berminggu-minggu kalau hujan. Bisa busuk di jalan. Makanya kebanyakan pakai pesawat dan itu mahal,” jelas Andian.
Ia menambahkan, wilayah Lembah Baliem, khususnya Kabupaten Jayawijaya yang memiliki sekitar 328 kampung dan 40 distrik, menjadi sentra utama produksi pangan di Papua Pegunungan.
Salah satunya lewat pengembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) berada di kawasan Tulem, Distrik Witawaya, Kabupaten Jayawijaya. Di wilayah ini, pembukaan lahan persawahan seluas 800 hektare tengah berjalan dan diproyeksikan menjadi pusat produksi pangan baru di Papua Pegunungan.
“Untuk sektor pertanian, semuanya dihasilkan dari sini. Sayur-sayuran dikirim ke Jayapura. Tapi ikan, tempe, itu masih didatangkan dari luar,” pungkasnya.

