Bakar Batu: Identitas Budaya, Perekat Solidaritas
Jagad Tani - Tradisi bakar batu masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Papua, termasuk di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan. Ritual adat ini umumnya digelar pada momen-momen tertentu sebagai bentuk syukuran dan perayaan atas peristiwa penting.
Salah seorang warga Kabupaten Jayawijaya, yakni Andian Sumartha, menuturkan bahwa pada masa lalu bakar batu hanya dilakukan pada acara-acara khusus. Seiring berjalannya waktu, tradisi itu kini lebih sering digelar dalam konteks syukuran, meski tetap bersifat istimewa dan tidak dilakukan setiap saat.
Baca juga: Kopi Wamena, Jawara Arabika dari Lembah Baliem
“Kalau dulu bakar batu itu momen-momen khusus. Sekarang biasanya dijadikan sebagai acara syukuran, misalnya Dewan (yang mengikuti pemilu) menang, mau tahun baruan, Natal, dan acara-acara besar lainnya,” ujar Andian.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa bakar batu tidak serta-merta bisa dilakukan secara bebas. Ritual ini biasanya dilaksanakan ketika masyarakat menggelar agenda besar, seperti kunjungan pejabat, peresmian fasilitas umum, syukuran gereja, hingga perayaan adat.
“Kalau ada acara besar, misalnya Bupati datang, peresmian, atau syukuran gereja, baru biasanya bakar batu,” katanya.
Secara prosesi, bakar batu dilakukan dengan cara menggali lubang di tanah, kemudian batu-batu dipanaskan hingga sangat panas. Batu panas tersebut kemudian disusun bersama bahan makanan secara berlapis di dalam lubang, lalu ditutup hingga matang secara alami.
“Batunya dipanaskan dulu sampai panas sekali. Setelah itu ditata mulai dari daging-daging. Yang paling lama masaknya biasanya ditaruh di bawah. Konsepnya seperti oven, tapi ovennya diganti batu panas,” jelas Andian.
Berdasarkan Jurnal "Nilai dan Fungsi Budaya Bakar Batu Dalam Relasi Lintas Suku di Pegunungan Tengah Papua: Sebuah Kajian Sosiologi Budaya" yang ditulis oleh Abet Nego Tabuni, dari Universitas Kristen Satya Wacana, bahan makanan yang dibakar dalam tradisi bakar batu umumnya berupa umbi-umbian, sayur-sayuran, daging bisa berupa babi, ayam dan lain-lain.
Selain itu, ada rerumputan ataupun dedaunan yang dipersiapkan untuk membungkus lapisan batu panas, umbi-umbian dan sayur-sayuran. Makanan-makanan tersebut merupakan hasil alam setempat dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga bakar batu juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan simbol kebersamaan.
“Ini kan makanannya mahal-mahal, jadi memang makanan spesial. Bentuk penghargaan juga,” ujar Andian.
Baca juga: Hipere hingga Keladi, Panganan Lokal Andalan Wamena
Secara tradisional, bakar batu juga dikenal dengan sebutan barapen dalam bahasa Biak, yang dijalankan oleh berbagai suku di Papua Pegunungan, seperti Suku Dani, Yali, Lani, dan Nguda. Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan memasak bersama, tetapi juga menjadi sarana mempererat solidaritas sosial, menyelesaikan konflik, serta menandai peristiwa penting seperti pernikahan adat, kelahiran, kematian, dan perayaan keagamaan.
Hingga kini, tradisi bakar batu masih terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Papua Pegunungan sebagai bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur, sekaligus menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur dalam kehidupan bermasyarakat.

