• 20 January 2026

Ekonomi yang Berdenyut, Lewat Bertani Jangkrik

uploads/news/2026/01/ekonomi-yang-berdenyut-lewat-5549970ed87d5a3.jpeg

Jagad Tani - Di sudut kota Tangerang Selatan di Kelurahan Sawah Lama, Kecamatan Ciputat, suara jangkrik bukan hanya sekadar bunyi sekelebat, melainkan denyut ekonomi harian. Dari sanalah Genjo, pemilik Petani Jangkrik Ciputat, menapaki jalan usahanya sejak pasca pandemi Covid-19. Pilihannya jatuh pada ternak jangkrik karena satu alasan sederhana, yakni perputaran cepat dan pasar yang jelas.

“Kalau jangkrik itu muternya cepat. Hampir tiap hari muter. Sepuluh, dua puluh kilo bisa jalan,” ujar Genjo saat ditemui oleh tim Jagad Tani Kamis (15/01).

Baca juga: Inovasi Ibu Esih, Ubah Sampah Jadi Wayang

Awalnya, ia hanya mengelola 12 boks jangkrik. Hingga akhirnya bisa menambah lahan lagi, dengan pengelolaan yang lebih rapi dan tambahan ruang di sisi lain. Konsistensi produksi menjadi kunci, terlebih sejak Genjo bekerja sama dengan sejumlah toko pakan dan aviary yang membutuhkan pasokan rutin.

Namun, menjadi petani jangkrik bukan tanpa tantangan. Ketersediaan stok dan fluktuasi harga sudah menjadi risiko sehari-hari. Ada masa banjir produksi hingga harga turun, ada pula masa permintaan melonjak tapi stok justru kosong.

“Pusing itu pasti. Namanya petani, ada naik-turun. Akhir tahun kemarin permintaan luar biasa, tapi barang nggak ada,” tuturnya.

"Nampak sekumpulan jangkrik usia muda yang masih belum siap panen" (Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)

Menariknya, ketika memasuki musim hujan justru dianggap berkah. Kelembapan udara membantu pertumbuhan jangkrik lebih optimal. Dengan perawatan yang tepat, jangkrik bisa dipanen ideal pada usia 25 hari. Jika lebih dari itu, maka jangkrik mulai bersayap dan nilai jualnya akan turun drastis.

“Kalau lewat 30 hari, biasanya udah bersayap, nggak laku. Timbangan turun, harga jatuh,” jelasnya.

Genjo menekankan bahwa pakan adalah faktor penentu utama. Ia menggunakan pur ayam pedaging dengan kandungan protein sekitar 22%, ditambah hijauan seperti gedebong pisang ataupun sawi. Menurutnya, pakan murah dengan kualitas rendah justru akan merugikan karena membuat jangkrik tumbuh bantet dan cepat bersayap.

Dalam satu kali panen, satu boks bisa menghasilkan 23–25 kilogram jangkrik, tergantung perawatan. Harga jual pun bervariasi, berkisar Rp40–45 ribu per kilogram ke toko, dan bisa mencapai Rp50–60 ribu jika dijual langsung ke perorangan.

Pasar jangkrik menurut Genjo, masih sangat menjanjikan. Sebab Jangkrik menjadi pakan utama berbagai hewan peliharaan seperti reptil, kadal, ikan arwana, hingga sugar glider. Tak heran, toko pakan nyaris selalu membutuhkan stok jangkrik.

“Kalau toko pakan nggak ada jangkrik, sepi. Banyak pembeli nyari jangkrik dulu, baru beli yang lain,” ujarnya.

"Pemotongan gedebong pisang, lalu diiris tipis-tipis untuk kemudian ditebarkan ke dalam kandang ternak jangkrik" (Jagad Tani/Rahmat Iskandar Rizki)

Bagi para pemula yang ingin terjun, Genjo bahkan menyarankan untuk memulainya dari kecil, cukup dua boks terlebih dahulu. Yang terpenting adalah kesiapan tempat, kandang yang tertutup rapat untuk menghindari hama seperti tikus dan cicak, serta kemauan untuk telaten mengurus.

“Kelihatannya mudah, tapi kalau dikerjain setengah-setengah ya nggak jalan. Kuncinya pasar dan kemauan,” katanya.

Meski belum memberi keuntungan besar, usaha ini mampu menutup kebutuhan harian dan memberi kepuasan tersendiri. Genjo mengaku menikmati prosesnya dari belajar lewat coba-coba, menjaga relasi dengan toko, hingga melihat hasil panen yang stabil.

Baca juga: Hilirisasi Garam Modangan Berpotensi Tingkatkan Kesejahteraan

Ke depan, ia berharap ada dukungan dan perhatian dari pemerintah, terutama bagi petani kecil. Ia optimistis jangkrik punya prospek besar, dalam dunia pakan, mengingat kandungan proteinnya yang tinggi.

“Kalau petani kecil dilirik, kita bisa naik bareng. Jangkrik ini bisa jadi lahan usaha banyak orang,” pungkasnya.

Dari boks-boks sederhana di Ciputat, Genjo membuktikan bahwa ketekunan, konsistensi, dan keberanian mencoba bisa menjadi fondasi usaha yang bertahan, bahkan bertumbuh di tengah persaingan.

Related News