• 21 January 2026

Seni Merawat Bonsai dengan Sepenuh Hati

uploads/news/2026/01/seni-merawat-bonsai-dengan-330940c1a7251fd.jpeg

Jagad Tani - Bonsai bukan hanya sekadar tanaman hias, tetapi karya seni yang membutuhkan ketelatenan, rasa, dan perhatian. Hal inilah yang disampaikan oleh Nurogo Adjie Pramono selaku penanggung jawab sekaligus pegiat bonsai di KWT Mina Tani Lestari, Cibodas, Kota Tangerang.

Menurut pria yang akrab disapa Pak Adjie atau Pak'e ini, salah satu tantangan utama dalam dunia bonsai adalah perawatan. Bukan karena sulit dilakukan, melainkan karena perlu konsistensi untuk merawatnya.

Baca juga: Inovasi Ibu Esih, Ubah Sampah Jadi Wayang

“Sebenarnya tantangannya cuma satu, males. Kalau rajin, bonsai itu nurut. Karena bonsai itu seni yang hidup. Kalau kita perhatian, dia tumbuh. Kalau ditinggal, ya rusak,” ujarnya saat ditemui oleh tim Jagad Tani.

Adapun koleksi bonsai yang ia rawat cukup beragam, mulai dari beringin korea, elegan, beringin lokal, serut, sancang, hingga hokiantea. Ia menegaskan, setiap jenis memiliki karakter dan tingkat kesulitan masing-masing, terutama bonsai berukuran kecil yang justru menuntut nilai seni lebih tinggi.

“Iya lagi pengen nyoba bikin yang kecil untuk souvenir. Tapi kalau yang kecil banget kan justru tingkat seninya tinggi, disitu itu tantangannya,” katanya.

Soal harga, Pak Adjie mengaku tidak pernah mematok nilai pasti. Baginya, harga bonsai sangat subjektif dan tergantung minat pembeli.

“Kadang saya malah bilang ke pembeli, lu aja yang hargain. Ada yang saya jual Rp500 ribu, tapi orang lain bisa jual Rp3 juta sampai Rp5 juta. Tergantung siapa yang lihat dan suka,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, tidak bisa memberikan nilai jual untuk bonsai miliknya, kadang dijual mulai Rp150 ribu, bahkan ada yang dilepas Rp50 ribu. Namun di sisi lain, bonsai tertentu pernah terjual dengan nilai setara harga mobil Pajero.

Pak Adjie juga menyoroti pentingnya rebranding bonsai di tengah masyarakat. Menurutnya, bonsai bisa menjadi alternatif souvenir yang  bermakna selain parsel atau cenderamata umum.

“Ucapan lebaran jangan parsel terus. Bonsai bisa jadi souvenir. Murah, hidup, dan ada seninya,” ujarnya. Ia bahkan berkelakar, “Kata orang, tanda orang kaya itu ada bonsai di rumah. Rumah boleh besar, tapi kalau nggak ada bonsai, belum keren.”

Baca jugaMina Tani Lestari Kembangkan Pertanian Organik Edukatif

Ke depan, Pak Adjie berharap bonsai lokal di Tangerang bisa lebih dikenal luas melalui media dan pemasaran digital. Ia mengaku lebih nyaman berada di belakang layar, namun siap mendorong generasi muda untuk mengambil peran promosi dan pemasaran.

“Saya ini sebenarnya nggak jago marketing. Tapi saya percaya, kalau karya dirawat dengan hati, rezekinya datang sendiri. Bonsai itu ngajarin sabar dan perhatian,” pungkasnya.

Related News