Woromo, Kelapa Hutan Berbentuk Nangka Endemik Papua
Jagad Tani - Di balik lebatnya hutan pegunungan tengah Papua, tersimpan pangan lokal yang masih jarang dikenal luas, yakni kelapa hutan. Buah endemik Papua ini menjadi sumber makanan tambahan atau camilan oleh masyarakat setempat seperti halnya di wilayah Kabupaten Jayawijaya.
Andian Sumartha, seorang warga asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya, menggambarkan bahwa, meskipun namanya kelapa hutan tapi buahnya ini memiliki bentuk menyerupai nangka.
Baca juga: Buah Merah, Tanaman Endemik Papua yang Bernilai
“Kelapa hutan itu (kalau sudah diolah) bentuknya panjang-panjang lalu bulat di ujungnya. Tidak bulat seperti kelapa biasa, buah ini menyerupai nangka, namun memiliki ciri khas tersendiri,” ujarnya.
Buah kelapa hutan biasanya diambil langsung dari pohonnya oleh masyarakat. Setelah dipanen, buah tersebut kerap dibakar terlebih dahulu, lalu dipukul dan dibelah untuk mengambil isinya.
“Cara makannya mirip kuaci, tapi kuaci versi jumbo,” kata Andian saat dihubungi oleh tim Jagad Tani.
Kelapa hutan juga dikenal dengan nama Woromo (Pandanus yilunea), tanaman endemik Papua yang termasuk dalam keluarga pandan (Pandaneceae). Daunnya mirip pandan berduri, sementara buahnya berwarna hijau dengan permukaan agak berduri. Woromo juga dikenal dengan berbagai sebutan lokal seperti kari, hekali, helak, owadak, dan kelapa hutan.
Daging buah Woromo berwarna putih hingga kekuningan atau oranye, bertekstur halus hingga agak keras, dengan rasa gurih dan aroma khas. Selain bijinya yang bisa dimakan segar atau dibakar, daging buah ini juga dimanfaatkan sebagai bahan pangan masyarakat asli pegunungan tengah Papua.
Menariknya, hingga kini Woromo belum dipasarkan secara luas. Buah ini biasanya hanya dikonsumsi saat musim panen tiba, yang berkisar antara bulan Juni dan Juli atau saat memasuki musim penghujan.
Untuk mendapatkannya pun tidak mudah. Masyarakat harus masuk ke hutan, melewati rimbunnya dedaunan, dan tanaman ini tumbuh di kawasan terbuka dengan paparan sinar matahari langsung pada ketinggian sekitar 2.500–3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Baca juga: Hipere hingga Keladi, Panganan Lokal Andalan Wamena
Di balik prosesnya yang sulit, kelapa hutan atau woromo menyimpan potensi gizi yang tinggi, dan diketahui mengandung asam lemak tidak jenuh seperti omega-9, omega-6, omega-3, serta MUFA dan PUFA, termasuk DHA dan EPA, yang baik bagi kesehatan.
Kelapa hutan bukan sekadar pangan, tetapi juga bagian dari kearifan lokal dan ketahanan pangan masyarakat Papua. Di tengah arus modernisasi, Woromo menjadi pengingat bahwa hutan Papua menyimpan kekayaan alam yang bernilai, baik dari sisi budaya maupun gizi, yang tumbuh selaras dengan kehidupan masyarakatnya.

