• 25 February 2026

Peternakan NTB Makin Kokoh dengan Surplus Produksi

uploads/news/2026/02/peternakan-ntb-makin-kokoh-187218ea1773203.jpeg

Jagad Tani - Sektor peternakan Nusa Tenggara Barat (NTB) menempati posisi strategis dalam peta peternakan nasional. Provinsi ini tercatat sebagai salah satu sentra ternak Indonesia, dengan populasi sapi potong berada di peringkat keempat nasional setelah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Tak hanya sapi, komoditas ternak lainnya juga menunjukkan peran signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, populasi kerbau NTB berada di urutan kedua nasional, kuda di peringkat ketiga, kambing urutan kelima, ayam kampung urutan ke-12 dari 38 provinsi, serta itik di posisi ke-13 nasional.

Baca juga: Inilah Komoditas Pertanian Bertarif 0% Amerika Serikat

Keunggulan tersebut ditopang oleh ketersediaan lahan sumber pakan ruminansia atau herbivora seluas 1.692.694 hektare. Dari total luasan tersebut, sekitar 353.025 hektare (20,85%) berada di Pulau Lombok, sementara 1.339.669 hektare (79,15%) berada di Pulau Sumbawa.

Melansir laman resmi Pemerintah NTB tercatat bahwa daya tampung ternak herbivora NTB mencapai 1.585.103 Unit Ternak (UT) atau setara 2.219.144 ekor. Selain itu, masih terdapat potensi pengembangan tambahan sebesar 419.640 UT atau setara 587.496 ekor, yang sebagian besar berada di Pulau Sumbawa.

Bahkan sepanjang tahun 2025, kinerja produksi peternakan NTB menunjukkan tren positif. Produksi daging ruminansia mencapai 15.366,1 ton, sedangkan kebutuhan konsumsi masyarakat sebesar 13.687,8 ton. Dengan demikian, terdapat surplus daging ruminansia sebesar 1.678,32 ton. Angka ini meningkat 5,7% dibandingkan produksi tahun 2024 yang tercatat 14.537 ton.

Pada sektor unggas, produksi daging unggas tahun 2025 mencapai 57.998,4 ton, melampaui kebutuhan masyarakat yang sebesar 55.553 ton. Surplus daging unggas tercatat 1.860,27 ton, meningkat 3,3% jika dibandingkan produksi tahun 2024, yakni sebesar 56.138,1 ton.

Sementara itu, produksi telur tahun 2025 mencapai 57.506,44 ton, naik 1,86% dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 56.434,86 ton. Peningkatan ini ditopang oleh naiknya populasi ayam buras menjadi 5.303.821 ekor, meningkat 4% dibandingkan tahun sebelumnya, serta populasi itik yang juga naik 4% menjadi 444.410 ekor. Selain itu, telur puyuh menyumbang produksi sebesar 227,83 ton, dengan populasi puyuh mencapai 131.389 ekor atau meningkat 14% dari 2024.

Baca juga: Lempar Tomat Demi Keberuntungan, di Pasar Chuong

Memasuki 2026, tantangan baru muncul seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi NTB dan berkembangnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sub sektor peternakan dituntut menyediakan pasokan protein hewani dalam skala besar, mulai dari telur, ayam, susu hingga daging.

Melalui Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi yang mengintegrasikan seluruh rantai produksi dalam satu klaster, mulai dari breeding ayam ras pedaging dan petelur, industri pakan, budidaya ayam, rumah potong unggas, hingga pengolahan daging ayam dan telur.

Setiap klaster diproyeksikan mampu menyerap lebih dari 1.300 tenaga kerja, memperkuat rantai pasok, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak. Kabupaten Sumbawa ditetapkan sebagai lokasi program karena ketersediaan lahan milik pemerintah, jarak yang relatif jauh dari permukiman, serta dukungan penuh pemerintah provinsi dan kabupaten.

Pada 2025, NTB berhasil mencapai target 100% wilayah terkendali dari Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di seluruh 10 kabupaten/kota. Sepanjang tahun tersebut tercatat 914 kasus PHMS, meliputi Anthrax, Septichaemia Epizootica, Surra, Rabies, Avian Influenza, dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang seluruhnya berhasil ditangani.

Penguatan sistem kesehatan hewan dilakukan melalui pengadaan alat PCR, sehingga pemeriksaan PMK kini dapat dilakukan langsung di NTB tanpa harus mengirim sampel ke provinsi lain. Pemerintah pusat juga mengalokasikan APBN untuk vaksin dan operasional vaksinasi PMK di seluruh kabupaten/kota, guna menjaga keamanan lalu lintas ternak dan mempertahankan kepercayaan pasar.

Indikator tata niaga sub sektor peternakan NTB tahun 2025 mencapai 77,85%, melampaui target 75% dengan capaian kinerja 103,80 persen. Persentase produk peternakan yang dipasarkan meningkat 9,22% dibandingkan tahun 2024.

Baca juga: Menjemput Rezeki dari Tenangnya Danau Cilala

Peningkatan ini diperkuat dukungan Kementerian Perhubungan melalui program Tol Laut. Sepanjang 2025 tercatat 17 voyage kapal ternak dengan berbagai rute, termasuk Bima–Tanjung Priok, Bima–Kwandang Gorontalo, Bima–Basirih, dan Bima–Trisakti Kalimantan Selatan.

Pemanfaatan angkutan khusus ternak melonjak hingga 455,95% dibandingkan tahun 2024, seiring kepemilikan kapal ternak oleh NTB tanpa mekanisme deviasi atau omisi.

Sebagai lumbung sapi nasional, populasi sapi NTB tahun 2025 mencapai 1.340.130 ekor, meningkat 2,44% dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 1.308.204 ekor. Kenaikan ini didorong keberhasilan program inseminasi buatan, transfer embrio, vaksinasi PMK, serta terkendalinya PHMS.

Related News