Opini: Menyemai Makna Kartini dari Pertanian
Jagad Tani - Setiap tanggal 21 April, perayaan Hari Kartini sering kali dirayakan dengan mengenakan pakaian adat (kebaya ataupun batik), melakukan upacara bendera, hingga mengadakan lomba. Namun, di balik itu semua, ada lapisan makna yang masih jarang tersentuh, yakni soal relasi antara perempuan dengan tanah, benih, dan kehidupan yang tumbuh di ranah pertanian.
Dari situ pulalah semangat Kartini menemukan bentuknya yang lain, dari suara yang paling sunyi, sekaligus menjadi yang paling kuat dalam membangun denyut kehidupan.
Baca juga: Kembangkan KWT untuk Budidaya Tanaman dalam Botol
Di banyak kebudayaan yang ada di Indonesia, perempuan bukan hanya hadir sebagai bagian dari keluarga ataupun anggota masyarakat, tetapi juga menjadi penjaga dari keselarasan alam itu sendiri.
Ambil contoh soal Dewi Sri, misalnya, yang diyakini oleh sebagian masyarakat di pulau Jawa, Bali, Lombok hingga sulawesi, sebagai penanda atau simbol (semiotika) dalam mitologi yang membawa kesuburan bagi tanaman, terutama padi.
Bahkan di dalam bahasa Sanskerta, kata Sri memiliki makna kemakmuran, kesuburan. Hal ini menjadi representasi bahwa kehidupan itu berakar pada tubuh perempuan, yang mana anaknya harus melalui proses kelahiran dulu dari rahim perempuan, lalu dirawat, dan diperhatikan, begitu juga dengan proses komoditas pangan sampai akhirnya bisa dipanen.
Di beberapa daerah, ada tradisi di mana perempuan memiliki peranan besar saat proses penanaman padi seperti tradisi Pa’totiboyongan di Mamasa, tradisi Nugal oleh perempuan adat Dayak Tae di Sambas, ataupun ritual adat miik kebinih (menanam padi/benih) di area suci di desa Bayunggede, Bangli.
Tradisi di atas tentu menjadi sebuah bentuk penghormatan, di mana perempuan memiliki posisi dan peranan dalam siklus hidup tanaman pangan itu sendiri, mulai dari penanam benih, hingga akhirnya bisa dipanen.
Melalui hal tersebut, Sahabat Tani bisa melihat bagaimana peranan perempuan utamanya melalui perayaan Hari Kartini, bukan lagi hanya sekadar hari peringatan, ia berubah menjadi ruang refleksi tentang bagaimana perempuan, sejak dulu telah memegang peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup, meskipun budaya patriarki terkadang masih berakar kuat.
Simbol lain yang menarik yakni konsep hutan perempuan (Tonotwiyat), di mana wilayah hutan tersebut secara adat hanya boleh dimasuki oleh perempuan. Lokasi ini berada di kawasan hutan mangrove di Kampung Enggros, Teluk Youtefa, Jayapura, Papua
Hutan ini bukan sekadar ruang fisik, tetapi juga ruang pengetahuan. Di sana, Mama-mama (perempuan) Enggros memanfaatkan hutan ini untuk mencari bahan pangan di hutan bakau demi memenuhi kebutuhan.
Hutan ini juga menjadi tempat bagi perempuan untuk berkumpul, dan berbagi cerita, karena secara tradisional mereka tidak memiliki ruang bicara di para-para (balai) adat kampung.
Jika ditarik lebih jauh, apa yang dilakukan Kartini, lewat tulisannya pada surat-surat yang dikirimkan kepada Jacques Henrij (JH) Abendanon di Belanda, hingga akhirnya surat itu diterbitkan menjadi buku dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, yang membuka ruang-ruang berpikir, ruang belajar, ruang untuk menjadi manusia utuh. Dalam konteks pertanian, perempuan juga telah lama melakukan hal serupa, membuka ruang kehidupan, bahkan sebelum kata emansipasi itu sendiri populer.
Merayakan Hari Kartini melalui simbol-simbol pertanian berarti menggeser cara kita memandang perjuangan. Bahwa perjuangan tidak selalu hadir dalam bentuk pidato atau tulisan, tetapi juga dalam tindakan-tindakan kecil yang konsisten, lewat menanam, merawat, dan menjaga.
Barangkali, di tengah dunia yang semakin cepat dan bising, kita perlu belajar kembali soal ritme kehidupan dari pertanian. Sebab dari kesabaran menunggu benih tumbuh, dari ketekunan merawat, kita bisa melihat bahwa semangat Kartini bukan hanya tentang melawan ketidakadilan, tetapi juga tentang merawat kehidupan dengan cara yang paling sederhana.
Karena pada akhirnya, tanah (ibu bumi) tidak pernah berteriak. Ia hanya menerima, menyimpan, dan memberi kembali. Seperti banyak perempuan yang bekerja dalam diam, tetapi menjadi fondasi dari segalanya. Dan mungkin, di situlah semangat Kartini itu sebenarnya hidupbukan hanya dari buku sejarah, tetapi juga melaui setiap benih yang ditanam dengan harapan.

