• 19 October 2026

Melalui Instalasi Seni, Suara Ekologis Pesisir Digaungkan

Jagad Tani -  Pada perhelatan Jakarta Biennale 2026 yang bertema Kebal, Kolektif Rumah Budaya Selat Bonot membawa isu lingkungan dan tekanan pembangunan yang dihadapi masyarakat Kepulauan Seribu lewat instalasi seni.

Mahariah Sandre, salah seorang seniman dari Rumah Budaya Selat Bonot mengatakan, instalasi yang dipamerkan merupakan gambaran kondisi pantai Pulau Pramuka yang jadi perjuangan masyarakat pulau dalam menghadapi berbagai gempuran, mulai dari sampah hingga perubahan iklim.

Baca juga: Salak Sari Intan, Unggulan Lokal Kabupaten Bintan

“Sederhananya gini, kami itu sebetulnya bawa potongan kondisi pantai Pulau Pramuka. Dua potong. Jadi pengen gambarin bagaimana kami di pulau yang sangat kecil bertahan dari segala macam gempuran,” ujar Mahariah saat ditemui di Taman Ismail Marzuki, Kamis (15/10).

Menurutnya, persoalan yang dihadapi masyarakat kepulauan tidak hanya berkaitan dengan aspek ekologis, tetapi juga sosial. Berbagai kepentingan dan keinginan dari pihak luar dapat menghadirkan tekanan tersendiri bagi masyarakat, terutama ketika pembangunan tidak dibicarakan atau didiskusikan bersama warga setempat.

Melalui karya tersebut, ia dan kolektifnya ingin mengajak masyarakat melihat persoalan kepulauan dari perspektif warga yang tinggal di dalamnya. Instalasi itu melibatkan lima seniman yang berbagi ruang untuk menyampaikan gagasan melalui berbagai elemen karya.

Salah satu elemen yang digunakan dalam pameran itu yakni jaring ikan bekas, dalam kondisi robek yang ditemukan di pantai dan terlilit sampah plastik. Material itu dinilai sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan persoalan sampah secara nyata dari lingkungan pesisir.

Mahariah menjelaskan bahwa melalui karya tersebut, masyarakat yang tinggal di daratan bisa berbagi respons dan perasaan terhadap kondisi yang terjadi saat ini, serta dapat membangun pemahaman bersama mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat Jakarta yang hidup di kepulauan.

Pelestarian ekologi berkaitan erat dengan keberlangsungan masyarakat dan kebudayaannya. Ketika wilayah tempat tinggal masyarakat terancam tenggelam, mereka berisiko kehilangan ruang hidup dan pada akhirnya menghadapi ancaman terhadap keberlanjutan budaya.

“Kalau pulaunya tenggelam, masyarakatnya kan pasti akan tersingkir. Secara tersingkir, orangnya tersingkir ya budayanya juga hilang,” katanya.

Mahariah juga menekankan pentingnya melihat Jakarta sebagai wilayah yang tidak hanya terdiri atas daratan, tetapi juga mencakup pulau-pulau dan kawasan laut. Menurutnya, Kepulauan Seribu memiliki posisi penting dalam membicarakan masa depan Jakarta.

Karena itu, ia berharap melalui penyelenggaraan Jakarta Biennale ini bisa menjadi ruang untuk menyuarakan pentingnya pendekatan pembangunan yang adil dan sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan.

“Pendekatan-pendekatan pembangunan juga harus fair dan berkeadilan. Berkeadilan itu artinya konteksnya sesuai dengan kondisi tempat, kondisi lokasi. Enggak bisa pendekatan daratan ditaruh di laut, atau sebaliknya,” ujarnya.

Sementara itu, Vina Dachi, selaku gallery sitter, menjelaskan bahwa instalasi Rumah Budaya Selat Bonot juga menggambarkan realitas hutan mangrove yang hidup berdampingan dengan sampah plastik.

Vina menjelaskan jika karya tersebut tidak semata-mata menghadirkan kritik terhadap pencemaran lingkungan, tetapi juga memperlihatkan kemampuan ekosistem untuk tetap tumbuh di tengah berbagaii hambatan.

Ia menilai, keberadaan mangrove yang masih dapat tumbuh di tengah lilitan sampah dapat dibaca sebagai gambaran ketahanan alam. Perspektif tersebut juga mengajak pengunjung untuk melihat hubungan antara manusia dan lingkungan secara lebih mendalam.

Selain menggunakan material yang ditemukan di lingkungan pesisir, instalasi tersebut menghadirkan kertas-kertas yang dibuat dari sampah plastik daur ulang. Pengunjung juga dapat menuliskan pesan yang kemudian ditempelkan pada bagian karya tersebut.

Dilanjutkan oleh Vina, selama pameran berlangsung, pengunjung dapat melihat gambaran kondisi lingkungan Kepulauan Seribu, agar dapat membuka kesadaran bahwa persoalan lingkungan di kawasan kepulauan yang jadi pintu gerbang Jakarta, ternyata masih belum banyak mendapat perhatian.

Baca juga: Efisiensi Pakan 84,03%, Inilah Keunggulan Metode Bioflok

Ia berharap karya tersebut tidak hanya membuat pengunjung mememahami persoalan ekologis, tetapi juga mendorong tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.

“Karena kan tema besar Jakarta Biennale itu kebal. Jadi itu menunjukkan juga bahwa dari hutan mangrove-nya sendiri juga kebal. Jadi bukan sekedar dari manusia doang yang kebal, manusia doang yang aktif dan alam yang secara pasif menerima kekacauan yang terjadi. Tapi hutan mangrove juga menunjukkan kekebalannya dan mengajak kita juga untuk semakin peka terhadap kondisi,” kata Vina.

Ia menambahkan, kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengumpulkan sampah untuk didaur ulang, hingga mendukung upaya konservasi.

Melalui instalasi tersebut, kesadaran ekologis diharapkan tumbuh tidak hanya melalui pemahaman terhadap persoalan lingkungan, tetapi juga melalui keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem di sekitarnya.

"Setidaknya (kita bisa) lebih peka dan lebih merasa bahwa ini juga bagian dari kehidupan gue. Jadi bisa lebih peka terhadap hal itu dan tergerak melakukan hal-hal baru dalam isu lingkungan, konservasi ataupun ya sekadar ambil sampah yang dibuang sembarangan dan lebih aware sama lingkungan sekitar kita," pungkasnya.

Related News