• 27 May 2022

Kisah Peternak Bebek Rugi Puluhan Juta

SHARE SOSMED

Aeng, peternak bebek hibrida di Ciseeng, Bogor harus menelan kerugian hingga puluhan juta rupiah. Meski demikian, menurutnya beternak bebek hibrida masih tetap menjanjikan.

Masih muda dan hobinya beternak, ialah Aeng, pria berusia 29 tahun yang saat ini menjalani profesi sebagai peternak bebek hibrida di Ciseeng, Bogor. Hatinya telah mantap untuk menekuni bisnis bebek hibrida sejak 3 tahun silam.

“Hobi saya untuk beternak bebek itu lebih besar, dibandingkan saya harus keluar sana untuk menjadi karyawan. Untuk itu, saya ingin memaksimalkan peluang bisnis yang ada tanpa kita harus keluar untuk bekerja,” kata Aeng kepada Jagad Tani saat ditemui di peternakannya.

Dalam balutan kemeja kotak-kotak dan celana panjang warna hitam, Aeng tengah mondar-mandir membawa ember berisikan serbuk berwarna cokelat yang ia ambil dari ruang penyimpanan pakan. Pakan tersebut ia racik sendiri agar daging bebek yang ia ternak memiliki bobot yang pas dan bisa cepat panen.

Namun, berbisnis memang bukan hal yang mudah. Lika-liku dalam dunia bisnis selalu ada dan bisnis tak melulu berjalan di atas aspal yang lurus. Hal ini juga dirasakan Aeng dalam beternak bebek hibrida, ia harus menelan kerugian hingga puluhan juta rupiah. Meski demikian, menurutnya beternak bebek hibrida masih tetap menjanjikan.

Pria lulusan Universitas Bung Karno ini menceritakan beberapa hal penyebab ia mengalami kerugian. “Awal rugi itu, pertama bebek saya pernah terjangkit virus. Lalu yang kedua, saya pernah beli pakan alternatif namun ternyata pakan tersebut sudah kadaluarsa. Saya rugi sampai puluhan juta dari pakan itu. Lalu rugi yang ketiga dari PPKM,” ungkapnya.

Baca juga: Kotoran Bebek Bisa Membawa Untung

Pria kelahiran Ciseeng tersebut mengatakan, PPKM waktu itu berdampak besar kepada peternakan bebek. Harga bebek anjlok di pasaran maupun di kalangan peternak. “Harga daging bebek jadi turun drastis, ditambah ada yang beli ke saya tapi masih ngutang. Sehingga saya mengalami kerugian yang cukup besar bahkan sampai puluhan juta rupiah,” tuturnya.

Kata Aeng, Yang membuat kantongnya jadi semakin membengkak karena biaya pakan bebek yang bisa dibilang cukup mahal. Bebek tidak laku, namun pemberian pakan terus berjalan. “Akhirnya dari cost pakan saja sudah membludak. Pemasukan tidak ada, pengeluaran terus yang ada,” imbuhnya.

Beternak bebek hibrida selama kurang lebih 3 tahun, membuat Aeng tidak menyerah meski sempat dilanda kerugian. Badai besar yang pernah melanda bisnisnya ini berhasil ia lewati dengan beberapa cara kreatif yang ia ciptakan.

“Terus terang, beternak itu kita tidak hanya diajarkan untuk meraih kesuksesannya saja ya, melainkan harus terus belajar, belajar dan terus belajar. Dari pengalaman yang saya rasakan dari rugi itu, pertama, soal pakan. Jangan sampai ambil murah saja, melainkan harus tau kualitasnya. Jangan coba-coba pakai pakan alternatif tapi tidak tau kadarnya,” jelasnya.

Baca juga: Berawal Coba-coba, Kini Sukses Beternak Bebek

Selanjutnya kata Aeng, mengenai virus yang sempat menyerang peternakannya, Aeng mengaku virus memang sulit untuk ditanggulangi. Namun peternak bisa meminimalisir resiko terkena virus dengan cara menjaga kebersihkan kandang, menjaga security cleaner kandang seperti efektivitas penyemprotan kandang dan vaksinasi, lalu memastikan tempat minum untuk selalu bersih dan terakhir, mencari alternatif dalam masalah penjualan.

“Sebagai penjual, harus ada cara alihan atau cara lain ketika moment tidak inginkan terjadi misalnya seperti PPKM kemarin. Misalnya, jual karkas atau alternatifnya jual bebek potongan juga atau bebek frozen,” tambah Aeng.

Aeng meyakini, bahwa bisnis bebek tentu menjanjikan. Namun tidak menutup kemungkinan akan mengalami penurunan. Perbanyak koneksi, lalu banyak menjalin hubungan, keluar mencari pasar, dan jangan malas menjadi beberapa cara yang ia terapkan untuk menghindari kerugian. 

“Namanya juga pebisnis ya, pasti ada naik dan turunnya. Pasti ada posisi dimana kita bisa untung namun ada juga posisi dimana kita bisa rugi. Kalau untung terus, nanti nggak ada yang mau jadi karyawan. Semuanya pasti lebih memilih jadi pebisnis aja,” tutupnya.

Baca juga: Bedanya Ayam Layer dan Broiler

Related News