• 19 April 2024

Strategi Konservasi Badak Jawa Hadapi Beragam Kendala

uploads/news/2023/08/strategi-kunci-keberhasilan-konservasi-4935501981efa1f.jpg

Menjadi spesies paling langka dibandingkan lima spesies Badak yang ada, beragam strategi disiapkan untuk menjaga kelangsungan hidup Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Upaya konservasi Badak Jawa mendapatkan 'angin segar' setelah mendapatkan perhatian melalui kunjungan langsung dari Direktur Jenderal KSDAE ke Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Tidak hanya menggelar diskusi untuk strategi terkait konservasi Badak Jawa dan mengunjungi Balai TNUK, Rombongan Direktur Jenderal KSDAE yang didampingi langsung oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Suharyono,  juga melakukan kunjungan ke Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) pada Jumat (25/08).

Dalam kunjungan pada hari kedua ini, bertujuan utama untuk merespons isu-isu terkait pengelolaan populasi Badak Jawa yang endemik secara lokal, yang saat ini hanya ada di semenanjung Ujung Kulon. Prof. Satyawan Pudyatmoko dan rombongan mengunjungi beberapa titik di dalam kawasan TNUK, seperti stasiun penelitian lapangan, fasilitas infrastruktur JRSCA, lokasi pembibitan tanaman pakan badak, serta sarana prasarana wisata Legon Pakis dan Tanjung Lame.

Didampingi Kepala Balai TNUK, Yayasan Badak Indonesia (YABI), Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) serta IRF, rombongan banyak berdiskusi langsung terkait progres pelaksanaan konservasi Badak Jawa di TNUK selama ini, dan kondisi kawasan secara biologis dan fisik, serta kondisi dan progres JRSCA terkini.

Diakui oleh Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, ada cukup banyak kendala yang dialami satuan kerjanya dalam menjaga habitat dan populasi Badak Jawa yang kini hanya ada di kawasan TNUK. Kendala-kendala itu disampaikan Kepala Balai TNUK dalam diskusi bersama di hari sebelumnya, Kamis (24/08).

Beragam masalah menerpa TN Ujung Kulon, namun yang cukup genting saat ini adalah terkait dugaan perburuan Badak Jawa dan minimnya personel lapangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa minimnya personel, sejak bulan lalu dan direncanakan hingga akhir tahun 2023 nanti, patroli dan penjagaan kawasan TNUK dilaksanakan oleh tim gabungan yang berasal dari Balai TNUK, personel BKO dari Brimob Polda Banten, personel BKO dari Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango, personil BKO dari Balai TN Gunung Halimun Salak, personel Rhino Protection Unit (RPU) YABI, personel dari ALERT, serta dukungan personel dari masyarakat sekitar kawasan TNUK.

Patroli dan penjagaan oleh tim gabungan ini mungkin saja akan diperpanjang hingga tahun depan, tergantung pada hasil evaluasinya nanti. 

“Indikasi perburuan (Badak Jawa) ini sudah terendus sejak 2018. Kami sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah perburuan ini. Kami melakukan operasi, membentuk tim gabungan dan juga berkoordinasi dengan beberapa pihak, seperti Pemprov Banten, Polda Banten, Forkompinda, DPRD Banten dan juga Geopark Ujung Kulon,” jelas Ardi.

Selain perburuan, Ardi juga menyebutkan jika konservasi Badak Jawa ini cukup rumit. Perilaku Badak Jawa yang pemalu dan sensitif membuat habituasinya sulit, hingga kini penelitian mendetail terkait perilaku Badak Jawa ini belum tuntas sehingga ada beberapa hal yang harus dilakukan secara hati-hati. 

Gangguan alamiah lain juga dihadapi TN Ujung Kulon dalam upayanya menjaga habitat dan populasi Badak Jawa. Di antaranya zoonosis yang bisa ditularkan dari kerbau dan beberapa jenis serangga. Oleh karenanya, area okupansi Badak Jawa harus dijaga dari keberadaan manusia dan ternaknya serta kawasan pemukiman.

Keberadaan Invasive Alien Species (IAS) dari jenis tumbuhan Langkap juga turut menjadi kendala yang perlu penanganan serius. Langkap menginvasi lantai hutan yang akan menyebabkan berkurangnya populasi dan sebaran jenis-jenis tumbuhan pakan Badak Jawa.

Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Satyawan Pudyatmoko menyampaikan bahwa Direktorat Jenderal KSDAE beserta jajarannya harus benar-benar serius dalam mengawal implementasi strategi konservasi Badak Jawa ini. Oleh karenanya, Prof Satyawan secara langsung memberikan beberapa arahan untuk mengatasi kendala-kendala yang ada. “Faktor atau variabel yang berpengaruh signifikan terhadap pengelolaan konservasi Badak Jawa ini perlu pencermatan secara lebih mendalam. Sebelumnya sudah pernah dilaksanakan Viability Population Analysis (VPA). Analisis tersebut cukup rumit namun kita perlu kembali mendalami beberapa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap Minimum Viability Population (MVP) Badak Jawa. Variabel signifikan tersebut kemudian akan kita intervensi agar kita dapat meningkatkan nilai MVP,” jelas Dirjen KSDAE. 

Lebih lanjut Prof. Satyawan menjelaskan beberapa hal yang juga perlu terus dilakukan, antara lain strategi dan upaya penanganan indikasi perburuan yang sudah dilakukan saat ini perlu ditingkatkan lagi. Kekurangan personel, minimnya fasilitas kerja serta pembiayaan harus segera tertangani. Balai TNUK harus segera mengajukan kebutuhan tersebut, agar upaya patroli dan penjagaan dapat lebih efektif hingga menekan perburuan ke nilai nol.

Eradikasi IAS juga harus terus dilakukan agar dapat menjamin ketersediaan kebutuhan pakan Badak di dalam habitat alaminya secara memadai. JRSCA perlu dimaksimalkan fungsinya. Kekurangan fasilitas dan metode kerja yang belum sempurna perlu segera disempurnakan agar segera berfungsi optimal. Strategi peningkatan populasi Badak Jawa melalui sanctuary semacam JRSCA ini sudah berhasil dilakukan untuk Badak Sumatera.

Selama ini Sumatran Rhino Sanctuary (SRS )sudah berhasil melahirkan empat individu Badak Sumatera baru.  Keberhasilan SRS di TN Way Kambas harus bisa segera diadaptasi pada JRSCA. Hal-hal teknis dan metode kerja di JRSCA perlu segera didiskusikan kembali dan ditindaklanjuti secara serius. JRSCA diharapkan dapat segera berfungsi pada tahun 2024.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Suharyono, juga memberikan arahan terkait strategi dan rencana aksi konservasi Badak Jawa. Untuk mencapai itu, sinergi antara pusat, Balai TNUK, mitra dan masyarakat perlu lebih dipererat lagi. “Perlu adanya rencana aksi yang lebih konkrit, dengan tim lintas lembaga, sehingga kerja sama dengan mitra dan masyarakat, bisa lebih dipererat lagi,” jelas Setditjen KSDAE. 

Diskusi terus berlanjut selama kunjungan lapangan Direktorat Jenderal KSDAE ke JRSCA. Selain didampingi Kepala Balai TN Ujung Kulon, YABI, ALeRT, IRF dan SRS sebagai mitra juga ikut serta dalam kunjungan lapangan itu. Usai mengunjungi lokasi pembibitan tumbuhan pakan badak, stasiun penelitian dan JRSCA, Dirjen KSDAE dan rombongan kemudian melakukan diskusi langsung dengan tim patroli gabungan, tim pelaksana camera trap, Brimob Polda Banten, tim JRSCA, dan MMP.

Dari hasil diskusi selama dua hari, Dirjen KSDAE berharap dapat dijadikan bahan untuk menyusun strategi konservasi Badak Jawa yang lebih efektif. Prof Satyawan dan Suharyono juga mengarahkan untuk segera melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama para pakar dan mitra untuk lebih menajamkan rumusan strategi dan rencana aksi konservasi Badak Jawa ini. FGD dibuat dengan sistem kluster, di mana setiap komisi akan mendiskusikan hal-hal spesifik terkait Badak Jawa.

Related News